BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Air telah lama dikenal sebagai
pelarut universal. Pengakuan ini disebabkan oleh keberadaan air yang berlimpah
di muka bumi dengan sifat dan karakteristiknya. Tidak ada pelarut lain yang
memiliki fungsi serba guna sebagai pelarut dan ketersediaannya yang sama
jumlahnya dengan air. Tidak ada juga penjelasan secara rinci tentang pelarut
lain yang membahas berbagai karakteristik sifat fisik dan kimia selain pelarut
air. Hal ini menyebabkan banyaknya alasan untuk memposisikan air sebagai
pelarut yang luar biasa diantara pelarut lain.
Banyak diantaranya zat lain yang
memiliki sifat pelarut sama, tetapi harus diakui bahwa sifat seperti itu
biasanya tidak begitu jelas seperti di dalam air. Perbedaan antara pelarut air
dengan pelarut tertentu lainnya lebih sering terletak pada perbedaan tetapan
dielektriknya daripada perbedaan sifat. Hal ini dapat dilihat pada jenis
pelarut bukan air seperti BrF3, N2O4, NH3,
dan HF. Telah banyak dijumpai beberapa cairan yang memiliki kemampuan untuk
melarutkan zat. Namun, pelarut jenis apapun itu hal yang lebih penting adalah
mekanisme saat reaksi ion berlangsung sehingga pelarut itu dapat melarutkan
suatu zat.
Pelarut adalah media untuk proses
ionisasi yang memiliki sifat dan itu adalah sifat dasar dari setiap jenis
pelarut. Pelarut berdasarkan jenisnya terbagi menjadi tiga macam, yaitu pelarut
air, pelarut organik, dan pelarut anorganik.
Dari ketiga pelarut tersebut memiliki karakteristik
masing-masing. Pelarut air merupakan pelarut umum yang sering digunakan dalam
melarutkan unsur dan senyawa. Pelarut organik yang umumya bersifat non polar
dan Pelarut anorganik yang non polar. Oleh karena itu, agar lebih memahami tentang
pelarut khusunya anorganik, maka disusunlah makalah ini.
1.2
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dari penyusunan
makalah ini adalah :
1.
Apakah yang dimaksud dengan pelarut
?
2.
Apakah yang dimaksud dengan pelarut
anorganik ?
3.
Bagimanakah sifat-sifat pelarut anorganik ?
4.
Apa jenis atau contoh pelarut anorganik ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1.
Untuk mengetahui pengertian dari
pelarut
2.
Untuk mengetahui pengertian pelarut
anorganik
3.
Untuk mengetahui sifat-sifat dari
pelarut
4.
Untuk mengetahui jenis atau contoh dari pelarut anorganik
1.4 Manfaat
1.
Agar mengetahui
pengertian dari pelarut
2.
Agar mengetahui pengertian pelarut
anorganik
3.
Agar mengetahui sifat-sifat dari
pelarut anorganik
4.
Agar mengetahui
jenis atau contoh dari pelarut anorganik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pelarut
Pelarut adalah benda cair atau gas yang
melarutkan benda padat, cair atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan.
Pelarut paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain yang juga umum digunakan
adalah bahan kimia anorganik biasanya disebut pelarut anorganik.
Konsentrasi larutan
menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan pelarut di dalam
larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat terlarut
dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat
terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah molar,
molal, dan bagian per
juta (part per million, ppm). Sementara itu, secara
kualitatif, komposisi larutan dapat dinyatakan sebagai encer
(berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi).
Molekul komponen-komponen larutan berinteraksi langsung
dalam keadaan tercampur. Pada proses pelarutan, tarikan antarpartikel komponen
murni terpecah dan tergantikan dengan tarikan antara pelarut dengan zat
terlarut. Terutama jika pelarut dan zat terlarut sama-sama polar, akan terbentuk
suatu sruktur zat pelarut mengelilingi zat terlarut. Hal ini memungkinkan
interaksi antara zat terlarut dan pelarut tetap stabil.
Bila komponen zat terlarut ditambahkan terus-menerus ke
dalam pelarut, maka tidak akan dapat larut lagi. Misalnya, jika zat terlarutnya
berupa padatan dan pelarutnya berupa cairan, pada suatu titik padatan tersebut
tidak dapat larut lagi dan terbentuklah endapan. Jumlah zat terlarut dalam
larutan tersebut adalah maksimal, dan larutannya disebut sebagai larutan
jenuh.
Titik tercapainya keadaan jenuh larutan sangat dipengaruhi
oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, tekanan,
dan kontaminasi. Secara umum, kelarutan suatu zat (yaitu jumlah suatu
zat yang dapat terlarut dalam pelarut tertentu) sebanding terhadap suhu. Hal
ini terutama berlaku pada zat padat, walaupun ada perkecualian. Kelarutan zat
cair dalam zat cair lainnya secara umum kurang peka terhadap suhu daripada
kelarutan padatan atau gas dalam zat cair. Kelarutan gas dalam air umumnya
berbanding terbalik terhadap suhu.
2.2 Pelarut Anorganik
Pelarut anorganik adalah pelarut selain air yang bukan
merupakan senyawa organik. Contoh umum adalah cairan amonia, cairan sulfur
dioksida, klorida dan fluoride sulfuryl, klorida fosforil, tetroksida
dinitrogen,
antimontriklorida, pentafluorida bromin, hydrogen fluorida,
asam sulfat murni, dan asam-asam anorganik lain.
Walaupun tidak sesempurna pelarut air dalam hal sifat dan karakteristik, tetapi
pelarut-pelarut ini sering digunakan dalam penelitian kimia dan industri
untuk reaksi yang tidak dapat terjadi dalam larutan air atau yang membutuhkan
lingkungan khusus.
Dan memiliki ciri-ciri pelarut yang membedakan sebagai
berikut :
1. memiliki harga b.p yang lebih rendah
(-350C) dan memiliki daerah fase cair yang lebih pendek dibandingkan
air (m.p = -780 C) sehingga penggunaannya relatif terbatas.
2. memiliki konstanta dielektrikum lebih rendah sehingga
kurang mampu melarutkan senyawa ionik. Sebagai contoh KCl hanya terdisosiasi
30% pada pelarut amoniak sedangkan pada pelarut air 100% terdisosiasi.
3.
Dibandingkan dengan air, pelarut
anorganik memiliki kemampuan lebih rendah untuk memprotonasi solute atau
pelarut anorganik lebih bersifat basa dibandingkan air.
2.3
Sifat-Sifat Pelarut Anorganik
Solven pengion adalah solven atau pelarut dimana spesies
ionic menjadi stabil, yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
1. Pelarut Anorganik memisahkan diri ke dalam ion-ion murni
sehingga memmpunyai konduktor elektrisitas lemah.
2. Pelarut Anorganik biasanya adalah molekul polar yang dapat
mensolvasi ion-ion menjadi interaksi ion dipole dan melemahkan, daya tarik
antar ion yang ada dalam Kristal padatan.
3. Pelarut Anorganik mempunyai konstanta dielektrik tinggi
(momen dipole tergantung pada jarak antara ujung muatan yang berlawanan dalam
suatu molekul, sedangkan konstanta dielektrik tergantung pada tingkat orientasi
antar molekul itu sendiri dalam medan listrik untuk merusak medan)
4. Pelarut Anorganik cenderung untuk berasosiasi karena adanya
interaksi dipol-dipol. Asosiasi ini lebih banyak dalam so;lven protonik karena
adanya ikatan hydrogen dan mengarah ke titik didih yang lebih tinggi sehingga
meningkatkan ranah larutan
5. Pelarut Anorganik seharusnya tersedia dengan mudah dan harus
mempunyai ranah (range) cairan yang cukup baik
2.4
Jenis Pelarut Anorganik
1. Amonia (NH3)
Selain air, amonia juga sebagai pelarut yang digunakan untuk
reaksi kimia, dipastikan bahwa pengklasifikasi pada reaksi yang menggunakan
pelarut amonia memiliki kemiripan dengan air. Ada beberapa reaksi yang dapat
dilakukan dengan menggunakan amonia, yaitu dengan cara Reaksi asam dan basa,
Reaksi Pembentukan/mempercepat reaksi, dan Reaksi Penguraian.
2. Bromin Trifluorida (BrF3)
Bromin Trifluorida adalah pelarut anorganik pengion yang
kuat dan merupakan padatan berwarna kuning yang memiliki titik beku pada suhu 90C
serta titik didih 1260C.
BrF3 hanya terdapat pada pelarut aprotik untuk dipostulasikan secara
ionisasi pada BrF3 yang didukung oleh isolasi dan karakterisasi
dengan difraksi sinar-X asam dan basa, dan menggunakan titrasi
konduktimetrik pada BrF3.
Konduktifitas tertentu dari BrF3 adalah 8 x 10-3 ohm-1
cm-1 pada 250C. Permitivitas relatif sekitar 107. Proses
ionisasi terjadi sesuai dengan persamaan sebagai berikut :
2BrF3
BrF2+ + BrF4-
3. Dinitrogen Tetroksida (N2O4)
Pelarut N2O4 adalah pelarut aprotik
non-air yang memiliki titik lebur -120C-210C dan
permitivitas relatif hanya 2,4 (sehingga merupakan pelarut yang buruk untuk
sebagian besar senyawa anorganik). Reaksi persamaan asam-basa dari pelarut N2O4
adalah :
N2O4
NO+ (nitrosonium) + NO3- (nitrat)
(asam)
(basa)
4.
Hidrogen Fluorida (HF)
Hidrogen fluorida, HF, adalah gas
tak bewarna, berasap, bertitik didih rendah (mp -83o C dan bp 19.5o C), dengan
bau yang mengiritasi. Gas ini biasa digunakan untuk mempreparasi senyawa anorganik
dan organik yang mengandung fluor. Karena
permitivitasnya yang tinggi, senyawa ini dapat digunakan sebagai pelarut
non-air yang khusus. Larutan dalam air gas ini disebut asam fluorat dan
disimpan dalam wadah polietilen karena asam ini menyerang gelas.
5. Asam sulfat
Lebih tingginya konstanta dielektrik
asam sulfat (€r = 100 ± 10) seharusnya menyebabkan asam sulfat lebih baik dari
pada air untuk melarutkan solute ionic, tetapi tingginya visikositas (245,4
milipoise, kira-kira 25 x dibanding air) menyebabkan kelarutan dan kristalisasi
solute merupakan proses yang lambat. Demikian juga adanya kesulitan untuk
memindahkan solven yang menempel pada kristal.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pelarut adalah benda cair atau gas yang
melarutkan benda padat, cair atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan.
Pelarut paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain yang juga umum digunakan
adalah bahan kimia anorganik biasanya disebut pelarut anorganik.
Pelarut anorganik adalah
pelarut selain air yang bukan merupakan senyawa organik. Dan sering digunakan dalam
penelitian kimia dan industri untuk reaksi yang tidak dapat terjadi
dalam larutan air atau yang membutuhkan lingkungan khusus.
Sifat-sifat pelarut anorganik ialah
memmpunyai konduktor elektrisitas lemah, dapat mensolvasi ion-ion menjadi
interaksi ion dipole, mempunyai konstanta dielektrik tinggi (momen dipole
tergantung pada jarak antara ujung muatan yang berlawanan dalam suatu molekul),
dan cenderung untuk berasosiasi karena adanya interaksi dipol-dipol.
Jenis pelarut Anorganik ialah Amonia (NH3), Bromin
Trifluorida (BrF3), Dinitrogen Tetroksida (N2O4),
Hidrogen Fluorida (HF) , Asam sulfat dan masih banyak yang lainnya.
3.2 Penutup
Demikianlah makalah ini disusun. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, sehingga
penulis dapat menyelesaikannya dengan tepat waktu. Dalam makalah ini
masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun untuk makalah ini agar dapat menjadi acuan
dalam materi kimia anorganik selanjutnya dan penulis mengucapkan terima kasih.
DAFTAR
PUSTAKA
Albert, C. F. dan Wilkinson, G.,
1989,Kimia Anorganik Dasar, Universitas Indonesia Press: Jakarta,
203-205.
Cotton F.A dan
G. Wilkinson., 1989, Kimia Anorganik
Dasar, UI-Press: Jakarta
Svehla,
1979, Buku Ajar Vogel: Analisis Anorganik Kuantitatif Makro dan Semimikro,
PT Kalman Media Pusaka :Jakarta.
Anonim, 2013, Jenis
Pelarut,http://santrinitas.wordpress.com. Di akses pada
14
Oktober 2014 di Samarinda
Anonim, 2013, Materi Kimia
Kelas X Asam
Basa. di alamat http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/asam-basa/ Di akses pada tanggal 14 Oktober 2014 di Samarinda
Vika, susanti, 2013, Utama Bahan
Ajar, Kuliah,http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_webml. Di akses pada tanggal 9 Oktober 2014 di Samarinda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar