2.1 Pembentukan Ikatan Ion
Perkembangan
munculnya teori ionisasi mendorong pernaharnan adanya senyawa ionik dan senyawa
kovalen atau nonionik. Senyawa ionik sederhan terbentuk hanya antara
unsur-unsur metalik dan nonmetalik yang keduanya sangat aktif. Dua
persyaratanpenting, yaitu energi ionisasi untuk membentuk kation dan afinitas
elektron untuk membentuk anion, harus lebih menguntungkan (favourable) ditinjau
dari pertimbangan energi. Ini bukan berarti kedua reaksi pembentukan ion-ion
tersebut harus eksotermik, tetapi lebih berarti bahwa reaksi tidak membutuhan
energi yang lebih besar. Jadi, persyaratan untuk terjadi ikatan ionik adalah
salah satu atom unsur harus mampu melepas satu atau dua elektron (jarang tiga
elektron) tanpa memerlukan banyak energi, dan atom unsur lain harus mampu
menerima satu atau dua elektron (hampir tidak penah tiga elektron) tanpa
memerlukan banyak energi. Oleh karena itu, ikatan ionik banyak dijumpai pada
senyawa dari logam golongan 1,2 sebagian 3, dan beberapa logam transisi dengan
bilangan oksidasi rendah, dan nonlogam golongan halogen, oksigen, dan nitrogen.
Semua energi ionisasi adalah endotermik, dan afinitas elektron untuk halogen
adalah eksotermik, tetapi untuk oksigen dan nitrogen sedikit endotermik.

Jenis
ikatan atom-atom unsur dengan contoh unsur-unsur priode ke tiga, dan senyawanya
dapat dipahami dengan mudah menurut model “ segitiga ikatan” ( segitiga Van
arkel-ketelaar). Pada garis dasar segitiga, dari kiri ke kanan(dari Na ke Cl)
atom-atom unsur tersusun dari sifat dominasi ikatan metalik ke sifat ikatan
kovalen. Sifat paling logam dimiliki oleh unsur paling kiri (Na) dan sifat
paling kovalen atau non logam dimiliki oleh unsur paling kanan dalam priode,
sedangkan diantaranya memberikan sifat logam amfoterik dan semikonduktor.
Ikatan antara kedua atom unsur paling ujung ini menghasilkan senyawa dengan
ikatan ionik yang digambarkan sebagai titik puncak segitiga. Senyawa di
antaranya menghasilkan sifat ikatan dari sifat metalik ke sifat ionik yaituuntuk
senyawa NaX (X= Mg, Al, Si, P, S), dan dari sifat kovalen ke sifat ionik yaitu
untuk senyawa XCl (X = S, P, Si, Al, Mg) yang keduanya digambarkansebagai
sisi-sisi miring segitiga. Akhirnya dapat dipahami bahwa MgS dan AIP merupakan
senyawa yang mempunyai karakteristik ketiga macam ikatan secara serentak. Dari
model segitiga ikatan ini dapat dipahami banyaknya senyawa yang mempunyai
karakter ionik dan kovalen secara serentak dengan derajat ionik-kovalen yang
berbeda-beda.
2.2 Karakteristika
Senyawa Ionik
Pada temperatur kamar senywa ionik berwujud padat dan
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1). Senyawa ionik cendrung mempunyai
konduktivitas listrik sangat rendah dalam bentuk padatan, tetapi menghatar
listrik sangat baik pada keadaan leburannya. Daya hantar listrik ini
diasiosasikan dengan adanya ion-ion positif dan negatif yang bergerak bebas
karena pengaruh listrik. Dalam keadaan padat, ion-ion ini diikat kuat dalam
kisi, tidak mengalami migrasi atau perpindahan, dan tidak ada bukti yang adanya
ion-ion yang bersangkutan juga ada dalm kristal padatannya, sehingga keberadaan
ion-ion dalam padatan hanyalah asumsi berdasarkan sifat- sifat yang diinterprestasikan dengan
gaya tarik- menarik elektrostatik.
2). Senyawa ionik cenderung mempunyai titik
leleh tinggi. Ikatan ionik biasanya sangat kuat dan terarah ke segala arah. Ini
bukan berarti bahwa ikatan ionik lebih kuat daripada ikatan kovalen, melainkan karena sebaran arah ikatan ke segala
arah, dan inilah yang merupakan faktor penting dalam kaitannya dengan titik
leleh yang tinggi. Intan, yang mempunyai struktur ikatan kovalen dan bersifat
multiarah, juga mempunyai titik leleh sangat tinggi.
3). Senyawa ionik biasanya sangat keras
tetapi rapuh. Kekerasan senyawa ionik sesuai dengan argumen diatas, sekalipun
perlakuannya melalui pemisahan secara mekanik ketimbang pemisahan secara termal
terhadap gaya-gaya tarik-menarik antara ion. Kecenderungan kerapuhan merupakan
akibat sifat alami ikatan ionik. Jika cukup gaya untuk mengeser sedikit ion-ion
(misalnya dalam unit sel NaCl, panjang ikatan menjadi memendek separohnya),
maka gaya yang semula tarik-menarik akan berubah menjadi gaya tolak-menolak
karena kontak antar anion dan antar kation menjadi lebih signifikan. Akibatnya,
kristal menadi mudah terpecah-belah, dan hal inilah yang banyak ditemui pada
banyak mineral.
4). Senyawa ionik biasanya larut dalam larut
dalam pelarut polar dengan permitivitas (tetapan dielektrikum) tinggi. Energi
interaksi dua partikel bermuatan dinyatakan dengan rumus E =
dalam hal ini q+ dan q- adalah muatan
listrik partikel, r adalah jarak pisah kedua partikel dan ɛ = permitivitas atau
terapan dielektrikum medium; untuk medium hampa, ɛo = 8,85 x 10-12
C2 m-1 J-1. Pelarut polar umumnya mempunyai
tetapan dielektrikum tinggi, misalnya untuk air ɛ = 7,25 x 10-10 C2
m-1 J-1, asetonitril ɛ = 2,9 x 10-10 C2
m-1 J-1, dan untuk amonia ɛ = 2,2 x 10-10 C2m-1
J-1, atau ɛ (H2O) = 82ɛO , ɛ(CH3CN)=33
ɛO , dan ɛ(NH3) =25 ɛO.Oleh karena
permitivitas amonia 25 kali permitivitas hampa, maka dapat dimengerti bahwa
gaya terik ion-ion terlarut dalam amonia hanyalah sebesar 4% daripada gaya yang
sama tanpa pelarut; semakin tinggi permitivitas pelarut semakin besar
pengaruhnya.
Sifat-sifat senyawa ion
1. Sifat-sifat
umum
Senyawa-senyawa
ion mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a. Senyawa-senyawa
ion dalam keadaan padat tidak tersusun dari molekul-molekul tetapi tersusun
dari ion-ion. Ion-ion ini saling tarik menarik dengan gaya-gaya
elektrostatistis dan membentuk suatu kisi kristal, yang strukturnya ditentukan
oleh besar dan muatan ion yang bersangkutan.
b.
Isomorf
Senyawa-senyawa
ion yang mempunyai susunan yang mirip satu sama lain seperti NaCl dan KNO3
mempunyai bentuk kristal yang sama yang disebur isomorf. Disamping itu terdapat
pula senyawa-senyawa yang mempunyai muatan ion yang berbeda tetapi mempunyai
susunan kristal yang sama, misalnya NaF. MgO, CaCl2 dan K2S
masing-masing mempunyai susunan kristal yang sama. Fakta tersebut dapat
dijelaskan dengan meninjau konfigurasi elektron ion-ion penyusun kristal
tersebut.
NaF Na+ F- MgO Mg2+ O2-
2.8 2.8 2.8 2.8
c. Senyawa-senyawa
ion berupa elektrolit. Dalam pelarut polar seperti air, amoniak cair dan sebagainya,
senyawa-senyawa ion akan terpecah menjadi ion-ion dapat menghantarkan aliran
listrik
d.
Reaksi
Ion
Pada
reaksi senyawa ionis, ion-ion tidak tergantung pada ion pasangannya, misalnya
bila NaCl dan AgNO3 (dalam larutan) dicampurkan, maka segera terbentuk
endapan AgCl.
e. Senyawa-senyawa
ion larut dalam air atau pelarut-pelarut sejenis , dan tidak larut dalam
benzena ataupun pelarut organik lainnya.
2.3 Model Ionik dan Ukuran Ion
Berdasarkan
elektronegativitas pauling, jika perbedaan elektronnegativitas antara dua atom
yang berikatan
kovalen membesar, sifat ikatan semakin polar. Akhirnya, jika perbedaan tersebut
sedemikian besarnya sehingga pasangan elektron sekutu menjadi terabaikan karena
lebih mendekat kepada salah satu pihak,maka ikatan yang terjadi dapat dikatakan
sebagai ikatan ionik. Dengan demikian, ikatan ionik secara sederhana adalah
gaya atraksi (tarik-menarik) elektrostatik antara ion positif dan ion negatif.
Pauling
melukiskan bahwa kenaikan perubahan perbedaan elektronegativitas akan
mengakibatkan kenaikan sifat ionik secara perlahan dan kontinu. Perbedaan
elektronegativitas nol merupakan titik ekstrem sifat kovalen murni, berbedaan
berkisar 1,7 merupakan pertengahan sifat kovalen-ionik, dan perbedaaan lebih besar
3,4 merupakan titik ekstrem sifat ionik murni. Jadi, sesungguhnya tidak ada
garis pembatas yang tegas antara karakter kovalen dan ionik, dan kenyataanya
banyak ditemui senyawa yang temasuk katagori “intermediat” (antara),
atau sering disebut kovalen polar. Kovalen polar ini dapat besifat ionik
parsial atau dapat bersifat kovalen parsial.
Karena
logam umumnya mempunyai sifat elektronegativitas rendah dan nonlogam bersifat
elektronegativitas tinggi, senyawa yang dibentuk dari keduanya sering termasuk
kategori ionik. Menurut model ionik murni, satu atau dua elektron valensi telah
berpindah dari atom berelektronegativitas rendah ke atom berelektronegativitas
tinggi.
Ukuran
atom dalam periode semakin kecil dengan naiknya nomor atom (dari kiri ke
kanan)sebagai akibatnya naiknya
muatan
inti efektif,
zef. Tetapi, perubahan atom menjadi ion
mengakibatkan perubahan yang komperatif besar pada ukurannya. Pembentukan ion
logam (kation) dari atomnya biasanyamelibatkan pelepasan semua elektron
valensi, sehingga ukuran kaiton akan menjadi jauh lebih kecil ketimbang ukuran
atom induknya. Sebagai contoh, jari-jari atom natrium adalah 186 pm, tetapi
jari-jari ionnya, Na+, hanya 116 pm. Dengan demikian terjadi
penyusutan ukuran yang sangat dramatik. Volume bola (atom/ion), adalah V 4/3 π r3 , maka penyusutan
jari-jari kation tersebut mengakibatkanpenyusutan volume menjadi kira-kira
hanya ¼ volume induknya.
Untuk
anion berlaku sebaliknya, ukuran ion negatif lebih besar daripada atom
induknya. Sebagai contoh, jari –jari kovalen atom oksigen adalah 74 pm, tetapi jari-jari
ion oksidanya (O2- ) adalah 124 pm; dalam hal ini kenaikan ukuran volume anion kira-kira
lima kali lipat dari volume atom induknya. Kenaikan jari-jari anion ini dapat
dijelaskan sebagai berikut : bahwa penangkapan elektron (tambahan)
mengakibatkan mengecilnya muatan inti efektif, zef, terhadap
individu elektron terluar sehinggan gaya tarik inti melemah dan ukuran anion
menjadi lebih besar ketimbang atom induknya.
2.4 Kecenderungan pada Jari-Jari Ionik
Jari-jari
kation semakin kecil untuk sederet spesies isoelektronik dalam satu periode
dengan kenaikan muatan ion. Sebagai contoh, 11 Na+,12
Mg 2+,dan 13 Al 3+, secara berurutan mempunyai jari-jari
ionik 116, 86, dan 68 pm; ketiga-ketiganya isoelektronik, mempunyai 10 elektron
dengan konfigurasi elektronik 1s2 2s2 2p6 .
satu-satunya perbedaan adalah jumlah proton didalam intinya: makin besar jumlah
proton atau muatan inti makin besar muatan inti efektif zef dan oleh
karena itu makin kuat gaya tarikannya terhadap elektron sehingga makin kecil
ukuran atau jari-jari ionnya. Jari-jari anion semakin kecil untuk sederet
spesies isoelektronik dalam satu periode dengan penurunan muatan ion. Sebagai
contoh, anion 7N3- ,8O2,dan 9F-
, secara berurutan mempunyai jari-jari ionik 132, 124,dan 117 pm. Ketiga
spesies ini adalah ioelektronik (10 elektron) dan dengan argumentasi yang sama
seperti tersebut diatas dapat dijelaskan penurunan ukuran anion ini. Kedua
contoh seri kation (Na+ , Mg2+ , Al 3+) dan
anion (N3- , O2- , F-) yang juga isoelektronik
menunjukan bahwa ukuran anion lebih jauh lebih besar ketimbang ukuran kation.
Secara umum memang benar bahwa kation logam lebih kecil ukurannya ketimbang anion nonlogam dalam satu
periode.
Dalam golongan, ukuran atom semakin besar dengan naiknya
nomor atom (dari atas ke bawah) demikian juga ukuran ionnya. Sebagai contoh,
anion halogenida F- , Cl-, Br-, dan I-
secara berurutan mempunyai jari-jari ionik 117, 167, 182, dan 206 pm.
Akhirnya perlu diketahui bahwa ukuran ion tidak dapat diperoleh
secara langsung, melainkan secara empirik, yaitu membandingkan hasil pengukuran
lebih dari satu senyawa untuk atom-atom yang sama.
1. Besarnya
ion
a. Jari-jari
ion
Jarak antara dua ion
yang setimbang dalam kristal, dapat ditentukan dengan difraksi sinar X atau
dengan cara-sara yang lain. Jarak ini biasanya dalam satuan Angstrom (10-8)
rAB
(Å) rAB
(Å)
KF :2,66 KBr : 3,29
NaF : 2,31 NaBr : 2,98
rAB
(Å) rAB
(Å)
KCl :3,14 KI : 3,53
NaF : 2,81 NaBr :
3,23
Perbedaan yang tetap
antara jarak-jarak diatas, menunjukkan bahwa jari-jari dari ion dapat dipandang
tetap, bila ion-ion dalam kristal dianggap berbentuk bola maka jarak antara ion
adalah jumlah kedua jari-jari ion yng bersangkutan.
rAB = rA + rB
untuk dapat menentukan rA dan rB
. salah satunya harus ditentukan. Pauling (1927) menetapkan jari-jari ion
berdasarkan anggapan bahwa ion-ion dengan susunan elektron sama, jari-jarinya
berdanding terbalik dengan muatan efektif dari ion-ion yang bersangkutan.
Muatan inti menentukan distribusi elektron diluar inti, jadi juga jari-jari
ion.
Muatan efektif = muatan initi (ze) – Screeninng effek
(Se) elektron.
Dimana besarnya S
ditentukan secara eksperimen dari data spektra. Untuk ion dengan struktur Ne,
besarnya S = 4,52.
Sebagai contoh untuk
ion-ion Na+ dan F- jari-jarinya dapat dihitung sebagai
berikut :
Muatan inti Na+ = 11e
Muatan Efektif Na+ = (11e – Se)
= (11 – 4,52)e
= 6,48 e
Muatan inti F- = 9
Muatan inti efektif F- = (9e –Se)
= (9 – 4,52)e
= 4,48
rNa+ : rF- =
:
= 4,48 :6,48
rNa+
F- = 2,31 Å
rNa+ =
= 2,31 Å = 0,95 Å
rF- =
= 2,31 Å = 1,36 Å
atas dasar ini
dapatditentukan jari-jari dari ion-ion yang lain.
b. Harga
jari-jari ion
Dari harga jari-jari
ion pada tabel, dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:
1) Dalam
satu golongan dalam tabel periodik, jari-jarinya semakin besar dengan
naiknyaberat atom.
2) Ion-ion
dengan susuna elektron yang sama, jari-jarinya semakin kecil dengan
bertambahmya muatan inti. Hal ini disebabkan karena gaya tarik terhadap
elektron yang semakin besar :
O2-,
F-, Na+, Mg2+, Al3+ (2,8)
S2-,
Cl-, K+, Ca2+, Sc3+ (2,8,8)
Cu+,
Zn2+, Ga3+ (2,8,18)
Makin
kekanan dari deret tersebut maka jari-jari ion semakin kecil.
3) Bila
suatu unsur membentuk dua ion positif, ion posirif dengan muatan yang kecil,
jari-jarinya lebih besar dari ion positif dengan muatan yang lebih besar. Hal
ini disebabkan karena ion dengan muatan besar mempunyai daya tarik antara
elekton-elektronnya.contohnya:
Ion r(Å) Ion r(Å)
Ti+ 1,44 Mn2+ 0,80
Ti3+ 0,95 Mn3+ 0,62
Pb2+ 1,21 Fe2+ 0,75
Pb4+ 0,84 Fe3+ 0,60
4) Untuk
deret lantanida terjadi kontraksi lantanida, artinya jari-jari ion semakin
kecil dari La-lu, hal ini disebabkan karena muatan inti terus bertambah, sedang
lintasan elektronnya tetap. Pengikisan elektron terjadi pada sub lintasa 4f
c. Pengaruh
bilangan koordinasi terhadap jari-jari ion
Jari-jari ion menurut pauling,
diperoleh dengan anggapan bahwa ion-ion berupa bulatan-bulatan dan ion satu dengan
lainnya saling bersinggungan. Hal ini tidak tepat, sebab susunan elektron
diluar inti sebenarnya diffuse, hingga sukar ditentukan batas kelilingnya.
Disamping itu dua ion yang berdekatan saling overlap dan menyebabkan terjadinya
deformasi. Deformasi ion-ion ni dalam bentuk kristal satu dengan lain tidak
sama, sehingga jari-jarinya juga lain.
2.5 Kecenderungan pada
Titik Leleh
Ikatan ionik adalah hasil dari gaya tarik-menarik satu
ion dengan ion-ion berlawanan muatan di sekelilingnya dalam kisi kristal.
Proses pelelehan melibatkan pemutusanparsial gaya tarik-menarik tersebut dan
mengizinkan ion-ion dapat bergerak bebas dalam fase cairnya. Titik leleh yang
tinggi bagi senyawa ionik menyarankan bahwa ikatan ionik tentu sangat kuat.
Semakin kecil ukuran ion berarti semakin terpusat muatannya sehingga semakin
kuat pula ikatan ioniknya, dan dengan demikian semakin tinggi titik lelehnya.
Hal ini ditunjukkan oleh contoh sederet senyawa halida KF, KCl, KBr, KI yang
secara berurutan mempunyai titik leleh 857,772, 735, dan 685oC.
Perbedaan titik leleh secara mencolok dapat terjadi oleh
karena perbedaan muatan yaitu semakin tinggi muatan semakin tinggi pula titik
lelehnya. Sebagai contoh, NaCl meleleh pada suhu 801 oC, sedangkan
MgO meleleh pada suhu yang sangat tinggi, 2800 oC.

2.6 Polarisasi dan
Kovalensi
Sebagian besar
penggabungan logam dan nonlogam mempunyai karakter senyawa ionik namun terdapat
beberapa pengecualian. Pengecualian ini terjadi apabila elektron terluar dari
anion tertarik begitu kuatnya ke arah kation sehingga mengakibatkan
terbentuknya ikatan kovalen hingga derajat kovalensi tertentu, artinya rapatan
anion terdistorsi ke arah kation. Distorsi (penyimpangan) dari bentuk ideal
anion ini, yaitu spherical (bentuk
bola), disebut polarisasi. Semakin besar sifat polarisasi anion semakin besar
derajat ikatan kovalensinya. Aturan yang dikemukakan oleh Kasimir Fajans
perihal polarisasi adalah sebagai berikut:
1). Kation dengan ukuran semakin kecil dan muatan positif
semakin besar mempunyai daya mempolarisasi semakin kuat
2). Anion dengan ukuran semakin besar dan muatan negatif
semakin besar akan semakinmudah terpolarisasi
3). Kation yang mempunyai konfigurasi elektronik bukan
konfigurasi elektronik gas mulia mempunyai daya mempolarisasi lebih kuat
Ukuran daya mempolarisasi suatu kation dinyatakan dengan
rapatan muatannya. Rapatan muatan adalah muatan ion (jumlah unit muatan
dikalikan dengan muatan proton dalam satuan coulomb, C) per satuan volume
sehingga:
Sebagai contoh ion natrium mempunya muatan +1 dan
jari-jari ionik 116 pm (1,16 x 10-7mm), maka rapatan muatannya
adalah:
Dengan cara yang sama, rapatan muatan ion alumunium dapat
dihitung yaitu sebesar 364 C mm-3. Dengan rapatan muatan yang jauh lebih besar, ion
alumunium mempunya daya mempolarisasi (terhadap anion) yang lebih kuat
dibandingkan dengan daya mempolarisasi ion natrium, sehingga dengan anion yang
sama senyawa alumunium lebih bersifat kovalen dibandingkan dengan senyawa
natrium.
Salah satu cara yang mudah utnuk membedakan sifat ionik
dan sifat kovalen suatu spesies adalah dengan membandingkan titik lelehnya.
Senyawa ionik dan juga senyawa kovalen jaringan cenderung mempunyai titik leleh
tinggi, tetapi senyawa kovalen sederhanamempunyai titik leleh rendah. Sebagai
contoh senyawa AlF3 dan AlI3 mempunyai titik leleh yang
sangat berbeda yaitu masing-masing 1290 dan 190oC. Ion fluorida
mempunyai jari-jari ionik 117 pm, jauh lebih kecil daripada jari-jari ionik
iodida, 206 pm. Tingginya titik leleh alumunium fluorida mengindikasikan bahwa
senyawa ini lebih bersifat ionik. Ini berarti bahwa ion fluorida yang ukurannya
kecil tidak atau sukar terpolarisasi oleh ion Al3+ sekalipun muatan
positifnya besar. Sebaliknya karena besarnya ukuran ion iodida maka rapatan
elektronnya mudah dipolarisasi oleh ion Al3+, sehingga senyawa AlI3
yang terbentuk lebih bersifat kovalen dengan titik leleh yang jauh lebih
rendah.
Oleh karena
jari-jari ionik dengan sendirinya bergantung pada muatan ionnya, maka besarnya
muatan kation sering merupakan petunjuk yang baik untuk menentukan derajat
kovalensi spesies (sederhana) yang bersangkutan. Kation dengan muatan +1 dan
+2, biasanya mendominasi sifat ionik, sedangkan kation dengan muatan +3
membentuk senyawa ionik hanya dengan anion yang sangat sukar terpolarisasi
seperti ion fluorida. Kation dengan muatan teoritik +4 atau lebih sesungguhnya
tidak dikenal sebagai ion, dan senyawanya sering dianggap sebagai senyawa yang
didominasi oleh sifat kovalen. Sebagai contoh, MnO mempunyai titik leleh 1785oC
tetapi Mn2O7 berupa cairan pada temperatur kamar. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa Mn(II) membentuk kisi kristal ionik dalam MnO,
tetapi Mn(VII) membentuk molekul kovalen dalam Mn2O7. Menurut
perhitungan, rapatan muatan ion Mn7+ adalah 1240 C mm-3
dan ion Mn2+ adalah 84 C mm-3. Rapatan muatan positif ion
Mn7+ sangat tinggi dan ukuran ion lebih kecil dibandingkan dengan
ion Mn2+ sehingga mempunyai daya mempolarisasi yang sangat kuat
terhadap anion oksida dan akibatnya terbentuk senyawa yang bersifat kovalen,
sesuai dengan titik lelehnya yang rendah.
Aturan Fajans yang ketiga berkaitan dengan
kation yang mempunyai konfigurasi elektronik bukan gas mulia. Sebagai contoh
adalah kation Ag+ (dengan konfigurasi [Ar] 4d10),
demikian juga
Cu+ , Sn2+, dan pb2+. Senyawa-senyawa perak halida, AgF, AgCl,AgBr,dan Agl,
mempunyai titik leleh masing-masing 435, 455, 430, dan 558 0C. Harga
ini lebih rendah kira-kira 300 0C dibandingkan dengan titik leleh KF, KCL, KBr dan Kl.
Dengan demikian, kation perak
mempunyai daya mempolarisasi yang lebih kuat dibandingkan dengan kation
K+, sehingga senyawa-senyawa perak halidalebih bersifat kovalen dibandingkan dengan senyawa- senyawa kalium
helida. Petunjuk lain tentang sifat kovalensi halida perak adalah kenyataan
bahwa helida perak (kecuali fluorida ) sukar larut dalam air sedang kalium
halida semuanya sangat mudah larut dalam air. Menurunnya sifat ionik atau
naiknya sifat kovalen helida perak mengakibatkan melemahnya interaksi antara
molekul air dengan muatan ion tersebut sehingga cenderung sukar larut. Untuk perak pluorida,ukuran ion pluorida
yang kecil menyebabkan
sukar dipolarisasi oleh kation perak,sehingga senyawanya lebih bersifat ionik
dan akibatnya dapat larut dalam air.
Contoh lain adalah perbandingan sifat
oksida dan sulfida antara
natrium(I)dengan lembaga(I).kation
natrium dan tembaga
keduanya mempunyai jari jari yang hampir sama. Oksida maupun sulfida dari natrium bersifat ionik,larut,dan
bereaksi denganair,tetapi oksida dan sulfida tembaga(I)tidak larut dalam air. Menurut aturan Fajans yang ketiga,kation Cu(I)dengan
konfigurasi elektronik bukan gas mulia mempunyai daya mempolarisasi yang lebih kuat hingga mempunyai kecendrungan
lebih kovalen. Hal
ini paralel dengan besarnya perbedaan elektronegativitas yaitu~2,5 untuk
natrium oksida yang berarti lebih bersifat ionik,dan ~1,5 untuk
tembaga(I)oksida yang
berarti lebih bersifat kovalen.
2.7 Hidrasi
Ion
Apabila
gaya tarik
elektrostatik antara ion-ion merupakan gaya pengikat senyawa ionik,pertanyaan
yang muncul adalah apa yang sesungguhnya
menjadi gaya penggerak yang melarutkan banyak senyawa ionik dalam
air?jawabannya adalah terbentuknya interaksi ion-dipol antara senyawa ion
dengan molekul air. Molekul air besifat polar (dwikutub), dengan muatan negatif
lebih terpusat pada atom oksigen dan muatan positif pada atom hetrogen. Pada
proses pelarutan senyawa ionik, kutub negatif oksigen dari molekul air akan
mengepung dan menarik kation, dan kutub positif atom hitrogen dari molekul air
mengepung dan menarik anion sebagaimana ditunjukan oleh model gambar berikut:

Jika
interaksi ion-dipol lebih kuat dari jumlah gaya tarik antar ion dan gaya antara
molekul air, maka proses pelarutannya akan berlangsung. Secara sederhana proses
pelarutan senyawa ionik NaCl dalam air dapat dituliskan sebagai berikut :
Na+Cl- + 2n H2O → Na+
(H2O)n +Cl- (H2O)
Atau Na+Cl- + H2O → Na+
(aq)
+ Cl- (aq)
Dalam
hal ini terbentuk ion-ion tersolvasi (artinya ion-ion terikat oleh pelarut)
atau ion-ion terhidrasi dalam pelarut air.
Apabila
senyawa ionik mengkristal dari pelarutnya (air), sangat sering molekul air
terkoperasi ke dalam kristal, dan terbentuklah senyawa hidrat. Dalam bebagai
contoh, molekul air secara sederhanya hanya menepati hanya menepati
rongga-rongga kosong dalam kisi-kisi kristal, tetapi umumnya molekul air
terasosiasi lebih dekat kepada ion-ion, biasanya kation. Sebagai contoh, almunium
klorida yang mengkristal sebagai
heksahidra,AlCl36H2O, kenyataannya keenam molekul air
tertata dalam bangun oktahedron teratur di sekeliling kation Al3+,
sehingga senyawa hidrat ini lebih akurat ditulis dengan formula [Al(OH2
)6]3+3Cl-dan formula ini menyarankan bahwa
kutub negatif oksigen (air) berinteraksi dengan kation dipol. Tentu saja dapat
dipahami bahwa jumlah molekul air
terhidrat dapat dikaitkan dengan ukuranmaupun besarnya muatan kation.
2.8 Struktur Kristal Ionik
Zat
padat dapat diklasifikasikan atas dasar tipe ikatan, yaitu ionik, kovalen,
metalik, dan van der waals, dan atas simetri kristaldalam hal hubungan antara
panjang dan sumbu-sumbu ristal yaitu kubus, tetragonal, ortorombik, heksagogal,
rombohedral, monoklinik, dan triklinik. Klasifikasi kristal atas dasar tipe
ikatan berdasarkan pada sifat-sifat hantaran listrik, kekerasan, titik leleh,
dan sebagainya sesuai dengan sifat-sifat kimiawi atom-atom yang terlibat.
Sedangkan, klasifikasi kristal atas dasar sifat simetrinya bergantung pada
refleksi kristal terhadap sinar-X untuk menentukan sudut-sudut antar muka atau
oleh difraksi sinar-X menemukan keteraturan internal.
Untuk
mempermudah dalam melukiskan sifat simetri sutu kristal diperkenalkan konsep
sumbu-sumbu kristalageografi. Sumbu-sumbu ini biasanya menujukan pada arah yang
peting dalam kristal sebagaimana didefinisikan oleh pemuka-peermukaan kristal
yang berangkutan. Tiga sudut a, b, c, dan sudut-sudut ᵅ, ᵝ dan Y cukup untuk
melukiskan klas suatu kristal.

Dalam
beberapa hal sumbu c diarahkan sejajar dengan arah unit kristal yang
berangkutan, misalnya arah memanjang atau memendek. Sumbu-sumbu a dan b yang
keuanya tidak seimbang dengan sumbu c mewakili arah terpilih kristal yang
bersangkutan. Bidang-bidang kristal dilukis menurut perpotonganya dengan
sumbu-sumbu tersebut. Atas dasar perbedaan ukuran ketiga sudut dan ulangan
jarak ketiga sumbu tersebut terdapat tujuh klas kristal sebagaimana ditunjukan
dalam tabel berikut:

Struktur
krital dapat dibedakan berdasarkan tipe kisi braveis atau kisi ruang
yang dibangun berdasarkan pada sifat simetri unit sel dan translasi yang
diperlukan dalam memperoleh titik-titik ekivalen didalam unit sel yang
bersangkutan. Hasilnya adalah empat belas macam bangun geometri kisi bravais
sebagaimana ditunjukan pada gambar berikut:

Oleh
karena adanya translasi titik-titik kisi (translasi nonprimitif) inilah yang
mengakibatkan beberapa kemungkinan kisi ruang menjadi tidak perlu ada karena
hal ini dapat diperoleh dari salah satu dari ke 14 kisi bravais tersebut.
Sebagai contoh, kisi tatregonal pusat muka (BUK-FLMN ) pada gambar 1.20 tidak
diperlukan, karena kisi ini dapat diperoleh dari translasi titik-titik kisi
tetrogonal pusat badan (ABCD-EFGH) yang mempunyai sifat simetri lebih tinggi.

Satu
satuan sel kisi tetragonal pusat muka (BIJK-FLMN) dalam lima satuan sel kisi
tetragonal pusat badan (BCDA-FGHE)
a. Bilangan
koordinasi
Didalam kristal,
banyaknya ion yang mengelilingi ion lain disebut dengan bilangan koordinasi.
Dalam senyawa A+B-, bilangan koordinasi A+ sama dengan B+
tetapi dalam senyaw a AB2 bilangaan koordinasi A dua kali B.
Bilangan koordinasi
yang menjadikan stabil sangat bergantung dari perbandingan jari-jari kation dan
anion atau rA+/rB-.
Kemungkinan-kemungkinan tersebut dapa dicari dengan anggapan bahwa ion-ion
berbentuk bulat.
Untuk unsur oktahedral,
atau dengan bilangan koordinasi enam, rA+/rB-
dapat dicari sebagai berikut:
Ion-ion A+
dan B- hanya dapat bersinggungan bila
Dalam tabel berikut
diberikan batas-batas rA+/rB-
berbagai struktur dan bilangan koordinasi.
|
Struktur
|
Bilangan koordinasi
|
Batas radius ratio rA+/rB-
|
|
Linear
|
2
|
0 – 0,1555
|
|
Triangular
|
3
|
0,155 - 0,225
|
|
Tetrahedral
|
4
|
0,255 – 0,414
|
|
Planar Segi Empat
|
4
|
0,414 – 0,732
|
|
Oktahedral
|
6
|
0,414 – 0,732
|
|
Kubus
|
8
|
0,732 – 1,000
|
|
Struktur Rapat
|
12
|
>1,000
|
Bila rA+/rB-satu
atau lebih besar, ion yang membentuk kristal besarnya sama. Hal ini terdapat
pada kristal-kristal logam.
Walaupun radius ratio
sangat berguna, tetapi hal ini tidak seratus persen benar, sebab disini
dianggap ion-ion berbentuk bulat.
Untuk kristal NaCl,
karena rNa+/ rCl- = 0,95/1,81 =
0,525, maka diharapkan strukturnya berupa oktahedral. Dalam kenyataannya memang
demikian, NaCl kristalmemiliki struktur kubus berpusat muka. Senyawa-senyawa
yang lain yang memiliki struktur yang sama diantaranya yaitu halida litium,
natrium, kalium, rubidium, dan sesium.
Senyawa-senyawa lain
yang mengkristal seperti NaCl ialah NH4Cl, NH4Br, NH4I,
Ca2+CO23- dan Ca2+CO22-
2.9 Kisi Kristal Senyawa Ionik
Senyawa
ionik berupa padatan, dan tatanan ion-ion dalam kisi kristalnya dapat
diperlukan seperti kemasan pada logam, sebagaiman diuraikan pada bab1 (ikatan
metalik) pada umumnya anion mempunyai ukuran lebih besar daripada kation,
sehingga anion-anion membentuk suatu kemasan, dan kation terselip didalam
ronga-ronga antar anion yang tesebut intertisi. Sebelum pembicaraan kemasan
lebih lanjut, prinsip umum untuk kisi ionik diuraikan terlebih dahulu seperti
berikut ini.
1). Ion-ion
diasumsikan sebagai bola-bola bermuatan yang takterkomprasi dan
takterpolarisasi. Semua senyawa ionik juga mempunyai sifat kompalasi meskipun
hanya dalam persentase kecil, dan kenyatanya model bola keras berlaku baik bagi
hampir semua senyawa ionik.
2). Ion-ion
mengatur dirinya sedemikian sehingga dikelilingi oleh ion lawan muatan
sebanya-banyaknya dan sedekat-dekatnya. Khususnya, hal ini terjadi bagi kation,
dan kemas rapat yang diadopsi tenyata tidak mengakibatkan anion-anion
pengeliling saling bersentuhan.
3). Rasio
kation terhadap anion harus menggambarkan komposisi kimiawi senyawa yang
brsangkutan. Misalnya, struktur kristal CaCl2 harus tersusun oleh
tataan ion-ion klorida dan kation kalsium yang banyaknya hanya setengah jumlah
ion klorida dalam kisi kristal.
Beberapa kation yang membedakan senyawa ionik dari
senyawa kovalen, secara sedarhana dapat dilihat dari struktur kristalnya.
Kristal ionik dibangun oleh kisi-kisi yang tersusun oleh ion-ion positif dan
ion-ion negatif sedemikian sehingga gaya tarik-menarik antara ion-ion yang yang
berlawanan muatan mencapai maksimum dan gaya tolak-menolak antara ion-ion sama
muatan mencapai minimum.
Kemas rapat bola-bola dengan ukuran sama menyiasakan
dua tipe celah, lubang, ruang terbuka, atau rongga antara lapis-lapisnya. Satu
metode pendekatan untuk visualisasi struktur kristal senyawa ionik adalah
menggambarkan larikan (array) kemas rapat ion-ion, dengan ion-ion yang lebih
kecil ukuranya menepati rongga. Biasanya, anion-anion yang umumnya lebih besar
ukuranya membentuk kemas-rapat, dan kation yang lebih kecil ukuranya menepati
rongga yaitu rongga tatrehendral dan atau rongga oktahendral. Tetapi dalam
beberapa kasus situasi ini dapat terbalik. Suatu larikan anion-anion mungkin
terbuka total dan memulai dari kemas-rapat untuk menkomodasi kation di dalam
rongga. Misalnya dalam kristal natrium klorida, kation Na+ menepati
rongga oktahedral dalam larikan kemas-rapat kubus pusat muka ion Cl-
yang sedikit mengembang sebagaiman ditunjukan pada gambar 1.21 (A). Ada satu
rongga oktahedral tiap ion Cl-, kation Na+, sehingga
dicapai stiokimiometri NaCl = 1:1. Keenam ion Cl- yang membangun
satu oktahedron ditunjukan oleh gambar 1.21 (B). Setiap ion Na+
dalam rongga oktahedron dikelilingi oleh enam ion Cl- demikian juga
sesungguhnya tiap ion Cl- dikelilingi oleh enam ion Na+
sehingga masing-masing mempunyai bilangan koordinasi enam.

Apabila ukuran kation
relatif terlalu besar, mungkin kation ini tidak cocok baik kedalam rongga
tetrahedron ataupun rongga oktahedron dalam kemas-rapat anion yang
bersangkutan. Dalam kasus seperti ini anion-anion membangun larikan kubus
sederhana yang menyiasakan rongga kubus yang menyediakan ruang/ celah cukup
untuk kation yang lebih besar. Satu kation di dalam rongga kubus mempunyai
bilangan koordinasi delapan; contoh untuk ini adalah CsCl.
Struktur kristal ion
dipengaruhi oleh muatan relatif dan ukuran relatif ion-ion yang bersangkutan.
Suatu kristal ion bersifat stabil apabila setiap kation tepat menyinggung
anion-anion di sekelilinginya demikian pula sebaliknya. Kation yang lebih kecil
membuat singgungan terbaik apabila dengan empat anion tetangga terdekat
membentuk bilangan koordinasi empat, dan menempati rongga tetrahedron yang
lebih kecil daripada rongga oktahedron. Ada dua rongga tetrahedron tiap anion
dalam satu larikan kemas-rapat anion. Dalam senyawa dengan stoikimetri 2:1
seperti Li2O dan Na2S misalnya, setiap rongga tetrahedron
ditempati oleh satu kation. Senyawa-senyawa yang mempunyai struktur kristal
sama dikatakan isomerfis. Beberapa senyawa ini dapat mengkristal secara bersamaan
menghasilkan campuran kristal. Misalnya, campuran NaNO3 dan CaCO3
membentuk kristal campuran walaupun sifat-sifat fisik dan semua kimiawi
keduanya berbeda satu sama lain.

Semua struktur kristal
ion dapat dikenali menurut sistem kristal yang telah dibicarakan di atas, dan
karakteristika padatan ionikditujukan Tabel 1.6. untuk mempermudah visualisasi,
bangun kisi kristal sering dilukiskan menurut model kemas-rapat stick and ball,
sehingga baik bangun geometri, jumlah atom atau ion maupun bilangan koordinasi
dapat ditentukan dengan mudah. Senyawa sederhan dengan rasio formula kation /
anion 1:1, 1:2, 2:1 dan 2:2 akan dijelaskan secara ringkas berikut ini :
1. Struktur
natrium klorida
Natrium
klorida
mengkristal dalam benrtuk kubus pusat
muka (face centered cube, fcc). Untuk membayakan bentuk ini perhatiakan
posisi salah satu ion-ion yang sama, ion-ion Na+ saja atau ion-ion
Cl- saja pada sistem satu unit sel kristal sebagaimana ditujukkan
gambar 1.21. Pada gambar 1.21(B) delapan
ion Cl- (lingkaran terang-besar) menempati kedelapan sudut suatu
kubus, enam ion Cl- yang lain
(lingkaran berbintik-besar) menempati keenam pusat muka kubus ini. Jika kubus
tersebut diperluas atau diperpanjang dengan tambahan masing-masing satu muka
lagi ke arah herizontal (kiri-kanan, muka-belakang) dan vertikal (atas-bawah),
maka akan terlihat bahwa tiap ion Na+ menepati pusat setiap bangun
oktahedron ion Cl-. Dengan demikian kristal NaCl dapat dikatakan
mempunyai bangun kemas rapat kubus pusat muka ion Cl- dengan ion Na+
yang lebih kecil menepati rongga oktahedral. Selain itu, perluasan bangun
inijuga akan memperlihatkan adanya bentuk kubus pusat muka yang dibangun oleh
ion-ion Na+ seperti halnya yang dibangun oleh ion-ion Cl-.
Oleh karena itu, kisi kristal natrium klorida merupakan dua kisi kubus pusat
muka yang saling tertanam di dalamnya (interpenetrasi).
Perluasan gambar 1.12
(B) akan menunjukan dengan jelas bahwa tiap ion “dihubungkan” dengan enam ion
lain. Maka, masing-masing ion mempunyai bilangan koordinasi enam. Dalam satu
unit sel (Gambar 1.2B), jumlah masing-masing ion/atom dengan mudah dapat
ditentukan yaitu empat, sehingga memenuhi soikiometri 1:1 dengan formula NaCl.
2. Struktur sesium klorida
Berbeda dengan natrium
klorida, NaCl, sesium klorida, CsCl, mengkristal dalam bentuk kubus sederhana
atau kubus primitif; jadi tidak termasuk kemas rapat. Hal ini berkaitan dengan
ukuran Cs+ yang relatif lebih besar yang sangat memerlukan rongga
yang besar daripada rongga oktaahedron. Sebagaiman ditunjukan gambar 1.22, di
dalam kisi kristalnya ion-ion Cl- menempati kedelapan titik
sudut kubus dan ion pasangannya, Cs+, menempati pusat badan kubus ini. Dengan
demikian, bilangan koordinasi ion Cs+ dapat ditentukan dengan mudah,
yaitu delapan karena dihubungkan dengan delapan ion Cl-. Kedelapan
ion Cl- masing-masing menempati osisi yang ekivalen dengan nilai
yang sama dalam satu unit selnya yaitu 1/8, dan mempunyai “satu
stick” penghubung sebagai bilangan koordinasi. Dengan kata lain tiap ion Cl-
tentu mempunyai “ delapan stick” penghubung atau bilangan koordinasi delapan.

Catatan: struktur CsCl kadang-kadang dinyatakan dengan
bentuk kubus pusat adan bcc yang tentu saja tidak tepat sebab dalam kisis bcc
baik titik-titik sudut maupun titik pusat badannya harus ditempati oleh ion-ion
yang sama.
3. Struktur zink sulfide dan wurtzit
Zink sulfida, ZnS,
merupakan satu contoh senyawa polimorf, mengkristal dalam dua macam bentuk kisi
yang sangat berbeda yaitu zink blende dan wurzit (Gambar 1.23). dalam kedua macam bentuk ini kedua ion
Zn dan ion S masing-masing mempunyai bilangan koordinasi empat. Zink blende
mempunyai struktur kemas rapat kubus pusat muka anion dengan kation mengisi
setengah rongga tetrahedron (Gambar 1.23 A). Dalam satu unit sel, masing-masing
ion dapat dihitung dengan mudah yaitu empat untuk kubus pusat muka ion S2-
dan empat untuk ion Zn2+ interior sehingga dipenuhi rasio stoikiometri
1:1.
Wurtzit mempunyai
struktur kemas rapat heksagonal ion S2- dengan ion Zn2+
mengisi setengah rongga tethedron sebagaimana terlihat pada gambar 1.20 B yang
menunjukan lapisan A-B-A untuka atom S. Dalam satu unit sel, terdapat enam atom
Zn yang terdiri atas empat atom Zn yang terdiri atas empat atom interior, dan 1/3
x 6 atom sudut heksagonal “tengah”; dan enam atom S yang terdiri atas tiga atom
interior 2 x 1/6 x 6 atom muka, da ½ x 2 atom “pusat” muka. Dengan
demikian, bangun ini memenuhi rasio stokiomtri 1:1. Pada kedua bentuk ini,
masing-masing kation dan anion mempunyai bilangan koordinasi empat.

4. Struktur fluorit
Kalsium fluorida, Caf2,
mengkristal dalam bentuk struktur flourit (Gambar 1.24). struktur ini merupakan
kemas rapat kubus pusat muka ion (C32+), dan ion (F-)
menempati delapan rongga tetrahedral. Dengan demikian, dalam satu unit sel
terdapat empat ion Ca dan delapan ion F- sehingga dipenuhi rasio
stoikiometri 1:2. Bilangan koordinasi ion F- sehngga dipenuhi rasio
soikiometri 1:2 bilangan koordinasi ion F-
dengan mudah dapat diketahui yaitu empat, sesuai dengan posisinya
sebagai atom interior yang menepati rongga tetrhahedral dengan emat
“stick” penghubung. Bola kation menempati dua macam posisi yaitu posisi sudut
kubus dan pusat muka kubus. Posisi sudut kubus (1/8 atom)
dihubungkan oleh satu “stick” pemghubung dan ini ekivalen dengan posisi pusat
muka kubus (1/2 atom ) yang dihubungkan dengan empat
“stick” penghubung. Kedua posisi ini menghasilkan bilangan koordinasi delapan
untuk kation. Jika baik posisi maupun kation dan anion dibalik, hasilnya adalah
struktur antifluorit, misalnya Li2 O dan Na2 O.

5. Struktur
rutil
Titanium dioksida, TiO2,
bersifat polimorf mengkristal dalam dua macam bentuk, yaitu rutil dan anatase.
Rutil merupakan bangun kemasa rapat heksagonal ion O2- , dan ion Ti4+
menempati hanya setengah rongga
oktahedral. Susunan sperti ini menghasilkan strukur tetragonal dengan ion Ti4+
menempati pusat badan dan kdelapan sudutnya, sehingga memberkan nilai dua
ion dalam satu unit selnya (gambar 1.25) sedangkan keenam ion oksida yang
mengakomodasi rongga oktahedral-isi, dua menempati posisi interior dan
empat menempati posisi dua bidang muka tetragon masing-masing 2 ion sehingga
memberikan total nilai empat ion. Dengan demikian, sturtur ini menghasilkan
rasio stoikiometri katio/anion 1:2 bilangan koordinasi kation adalah enam ,
yaitu enam anion oksida yang tertata secara oktahedraldan bilangan koordinasi
anionya adalah tiga, yaitu tiga kation Ti4+ yang tertata secara
trigonal.

Dalam anatase TiO2,
anion-anion oksida memebentuk larikan kemas rapat kubus dan kation Ti4+ menempati hanya stengah rongga oktahedral
tetapi dengan pola yang berbeda dengan pola dalam rutil. Perbedaan pola pada
penempatan kation dalam rongga oktahedral dari kedua bentuk ini ditunjukan pada
gambar 1.26

6. Struktur
β - kristobalit
Silikon dioksida , SiO2
mengkristal dalam bermacam-macam bentuk; bberapa diantaranya distabilkan
oleh kehadiran atom-atom asing. Sakristalla satu adalah β – kristobalit yang
mirip dengan atom-atom silikon menempati semua posisi atom Zn dan S di dalam
striktur zink blende, dan atom-atom oksigen menepati posisi diantara atom-atom
silikon. Bentuk lain adalah tridimit yang mirip dengan struktur wurzit. Dalam
kedua macam struktur ini bilangan kordinasinya adalah empat untuk silikon dan duu
untuk oksigen.
2.10 Cacat dan Poin Cacat
Kecuali kristal-kristal tunggal
yang tumbuh dalam kondisi khusus, senyawa-senyawa kristalin jarang bersifat “
sempurna”. Suatu kristal sempurna bersifat kimiawi murni dan mempunyai struktur
sempurna dengan setiap titik-titik kisi terisi seperti yang dilukiskan oleh
unit sel. Sifat-sifat fisik dan kimiawi suatu padatan banyak yang tergantung
pada hadirnya cacat-cacat dalam padatan yang bersangkutan. Kristal-kristal
sempurna bersifat sangat kuat sedangkan hampir sebagian besar padatan
mengandung cacat yang cukup untuk menyebabkan padatan ini mudah dipengaruhi
oleh gaya-gaya mekanik. Reaksi kimia dalam keadaan padat memerlukan gerakkan
atom-atom atau ion-ion melalui padatan yang bersangkutan. Namun dalam kristal
sempurna tidak ada jalan khusus yang tersedia untuk keperluan gerakan ini,
tetapi dalam kristal-kristal “cacat” atom-atom atau ion-ion dapat bergerak dari
cacat satu ke cacat lain. Jadi strktur cacat sangat berperan dalam menentukan
sifat-sifat semikonduktor.

Satu dari beberapa tipe
cacat yang didefinisikan oleh para ahli kimia zat padat adalah variasi didalam
penempatan kisi atau variasi bagian-bagian interstitial (selit) dalam kristal.
Ada tiga tipe dasar poin cacat yang dapat terjadi seperti ditunjukan pada
gambar 1.27, yaitu :
(a) Kekosongan
adalah adanya bagian kisi yang tidak terisi atau tidak dihuni
(b) Interstitial
(selit), adalah adanya atom atau ion dalam ruang atau celah diantara
bagian-bagian kisi, dan
(c) Pengotoran
(impurity) adalah adanya ion atau atom asing didalam bagian kisi reguler atau
bagian selit.
Dalam
kristal ionik, sifat kenetralan muatan listrik harus dipertahankan, dan dalam
banyak hal ini dicapai melalui keseimbangan antara cacat-cacat yang bermuatan
positif dan negatif. Kecendrungan beberapa senyawa untuk mengakomodasi poin
cacat dalam struktur kristalnya menyebabkan terjadinya senyawa-senyawa
nonstoikiometrik yaitu rasio dari atom-atom berbeda yang bergabung buka
merupakan bilangan bulat. Senyawa demikian ini hanya terdapat pada keadaan
padatan dan dan dalam banyak hal mempunyai komposis yang bervariasi untuk
mempertahankan kenetralan muatan, dua ion Fe2+ diubah menjadi ion Fe3+
untuk seetiap ion Fe2+ yang ilang.
2.11 Jarak
Antarnuklir
Jari-jari
Ionik
Perbedaan
utama pada jari-jari ionik dengan jari-jari van
der waals terletak pada perbedaan gaya tariknya. Jarak antar ion dalam LiF
contohnya, merupakan jarak gaya tolakan antar inti Li dengan inti F seimbang dengan gaya elektrostatis yang
kuat antara ion Li+ dengan F-. Energi tarikan antar Li+F-
cukup tinggi, lebih dari 400 kj mol-1, dan energi london Li-F
berharhga derajat 4 kj mol-1. Oleh karena itu, gaya-gaya dalam
kristal Li-F jauh lebih tinggi, dan jarak antar ionnya yaitu 195 pm, menjadi
lebih pendek dari yang diharapkan berdasarkan jari-jari van der waals Li dan F yaitu sebesar 294 pm. Dengan perinsip yang
sama seperti halnya menaksir jari-jari kovalen, memungkinkan juga untuk
meneliti jari-jari ionik.
Jarak
antarnuklir antara dua ion dalam struktur ionik diasumsikan sama dengan jumlah
jari-jari ionik; d = r++ r- (r+ = jari-jari
kation dan r- = jari-jari anion) dengan membandingkan jarak antar
senyawa-senyawa yang berbeda tetapi mengandung ion yang sama akan dapat
ditunjukkan bahwa jari-jari bersifat relatif tetap. Misalnya perbedaan
jari-jari K+ dan Na+ dapat dievaluasi dengan empat
senyawa berbeda sebagai berikut:
rk+
-rNa+ = dKF
– dNaF = 35pm
=
dKCl – dNaCl =
33pm
=
dKBr – dNaBr =
32pm
=
dKI –d NaI =
30pm
Sebenarnya,
hasil kecenderungan penurunan yang cukup nyata dengan naiknya ukuran halida
adalah sebagai efek nyata yang dapat dimengerti oleh pertimbangan sistim kemas
rapa. Jika dikatakan bahwa (rk+ -rNa+) relatif tetap,
maka cukup beralasan untuk mengasumsikan bahwa rk+ dan rNa+
juga relatif tetap. Baik data penjumlahan maupun pengurangan ion-ion dari
senyawa senyawa yang saling berikatan mudah diperoleh, maka bila jari-jari dari
salah satu ion dapat diketahui jari-jari ion lain pun dapat diketahui atau
ditentukan.
Pauling
mengusulkan suatu metode praktis untuk menghitung rasio jari-jari ion yaitu
bahwa jika dua ion mempunyai konfigurasi gas mulia yang sama, misalnya NaF maka
rasio jari-jari harus berbanding terbalik dengan rasio muatan nuklir yang
dialami oleh elektron-elektron terluar. Muatan inti efektif dapat dihitung
dengan menggunakan tetapan perisai empiris, misalnya seperti yang dikembangkan
oleh Slater. Yang menyatakan bahwa sebuah elektron didalam kulit utama kedua
yang penuh dilindungi oleh semua elektron yang lain sampai dengan elektron ini
mengalami interaksi dengan muatan nuklir sebesar 4,15 unit kurangnya dari yang
aktua 11, muatan efektifnya adalah 11-4,15 = 6,85. Untuk atom F, muatan
efektifnya adalah 9,00 – 4,15 = 4,85. Maka, menurut pauling :
Karena
jarak interionik dalam NaF adalah 231
pm, maka rNa + + rf- = 231 pm, hingga dapat
diperoleh rf- = 135 pm dan rNa+ =
96 pm, dengan cara ini jari-jari ionik untuk banyak senyawa dapat ditentukan,
dan hasilnya sebagaimana yang ditunjukkan pada tabel.

Namun
menurut Shannon dan prewitt, jari-jari ionik berkaitan dengan bilangan
koordinasi dalam kisi kristal senyawanya, dengan jari-jari kation sekitar 14 pm
lebih panjang dan anion sekitar 14 pm lebih pendek dari pada harga-harga
tradisional tersebut.
Rasio
Jari-jari Ionik
Besarnya
ukuran rongga oktahedral dalam sebuah kisi kerapatan anion dapat ditentukan
dengan mudah. ( gambar 1.29). suatu kation yang menempati tepat sebesar rongga
oktahedral, bagian aksialnya akan membentuk bujur sangkar dengan panjang
diagonal sebesar 2 r+ + 2 r-. Dengan demikian, dalam
segitiga siku-siku sama kaki (gambar
1.29b) berlaku hubungan sebagai berikut:
Cos
45o =
= 0,707
r- =0,707 r- + 0,707 r+
0,293
r- = 0,707 r+ sehingga
= 0,414, atau
= 2,45
Rasio
ini (
0,414) akan membatasi sifat “kestabilan”
kation dalam rongga oktahedral untuk menjaga agar anion-anion tetap
bersinggungan. Kation dengan ukuran lebih kecil tentu akan memilih rongga
tetrahedral yang lebih kecil dari pada rongga oktahedral, dan kation yang lebih
besar akan memilih rongga kubus yang sederhana.

Dengan
cara yang sama, rasio terendah bagi rongga dengan bilngan koordinasi 3
(trigonal, pada gambar 1,29c), 4 (tetrahedral), 8 (kubus sederhana), dan 12
(dodehedral) dapat ditentukan yaitu masing-masing sebesar
0,155, 0,225, 0,732, dan 1,00. Hal ini berarti
bahwauntuk rasio 0,155 – 0,225, bentuk yang lebih diuntungkan adalah koordinasi
geometri trigonal, rasio 0,225 – 0,414, koordinasi geometri tetrahedral, rasio
0,414 – 0,732 koordinasi geometri oktahedral, dan rasio 0,732 – 1,00 bentuk
koordinasi geometri kubus sederhana.

Senyawa
BeS mempunyai rasio jari-jari
=
= 0,35. Dengan demikian dapat diramalkan bahwa
Be mempunyai bilangan koordinasi empat karena cocok menempati rongga
tetrahedral, dan kenyataan memang BeS mengadopsi struktur wurtzit demikian juga
dengan cara yang sama dapat diramalkan bahwa ion Na+ akan memilih
menempati rongga-rongga oktahedral dalam kemas-rapat kisi anion Cl-,
sehingga membentuk kristal NaCl dengan bilangan koordinasi enam, karena
=
= 0,69. Tetapi dengan kation yang lebih besar
seperti Cs+ struktur CsCl tidak lagi mengadopsi bilangan koordinasi
enam seperti NaCl, melainkan mengadopsi bentuk kubus sederhana dengan bilangan
koordinasi 8 karena
=
= 1,08.
Dalam
senyawa yang mempunyai jumlah anion yang tidak sama dengan jumlah kation,
misalnya SrF2, TiO2, Li2O, dan Rb2S,
penerapan rasio jari-jari terhadap dugaan bilangan koordinasi tidak begitu
mudah, dalam hal ini cara yang terbaik adalah dengan mempertimbangkan dua macam
perhitungan rasio jari-jari seperti pada contoh SrF2 sebagai
berikut:
Oleh
karena jumlah anion F- harus dua kali jumlah kation Sr2+, maka sebaliknya bilangan koordinasi kation Sr2+
harus dua kali bilangan kordinasi anion F-. Kesesuaian bilangan
koordinasi dengan stoikiometri ini meyebabkan senyawa SrF2
mengadopso struktur fluorit dengan kation Sr2+ mempunyai bilangan
koordinasi 8 (maksimum) dan anion F- mempunyai bilangan koordinasi
4.
Contoh
selanjutnya adalah SnO2 dengan rasio ion sebagai berikut:
Dengan
pertimbangan stokiometri senyawa ini, bentuk yang hanya mungkin diadopsi adalah
struktur TiO2- rutil dengan bilangan koordinasi 6 untuk kation Sn4+
dan bilangan koordinasi 3 untuk O2-.
Dengan
catatan aplikasi jari-jari ini sangat terbatas dan harus berhati-hati khususnya
bila ikatan kovalen menjadi faktor yang harus dipertimbangkan.
Perkecualian terhadap
penerapan rasio jari-jari
Penerapan
hubungan rasio jari-jari terhadap bangun geometri pada berbagai contoh yang
telah diberikan memang cukup instruksif. Namun rasio jari-jari hanyalah
merupakan sebuah petunjuk sajayang sesungguhnya sangat terbatas pemakaiannnya
dan perlu hati-hati. Walaupun banyak senyawa ionik benar-benar mengadopsi
bangun geometri sesuai dengan ramalan, ada banyak pengecualian. Berikut contoh
yang menunjukkan pengecualian yang ekstrem.
Tabel 1.12 contoh
beberapa senyawa dengan kemasan-nyata yang menyimpang dari kemasan-duga.
|
Senyawa
|
r+/r-
|
Kemasan-duga
|
Kemasan-nyata
|
|
HgS
|
0,68
|
NaCl (koordinasi 6)
|
ZnS (Koordinasi 4)
|
|
LiI
|
0,35
|
ZnS (Koordinasi 4)
|
NaCl (koordinasi 6)
|
|
RbCl
|
0,99
|
CsCl (koordinasi 6)
|
NaCl (koordinasi 6)
|
Kimia
bukanlah subjek yang sederhana, dan dalam senyawa yang sangat ionik sekalipun
sesunggungnya terdapat sifat kovalen parsial walaupun hanya sederajat rendah;
semakin berkurang derajat ioniknya maka semakin bertambah derajat kovalensinya.
Dan dalam keadaan demikian model bola keras bagi sbagi suatu ion dalam
berbagai senyawa tidak lagi tepat.
Sebagai contoh, raksa (II) sulfida, mempunyai tingkat kovalensi yang cukup
tinggi sehingga dapat dipertimbangkan sebagai senyawa dengan jaringan kovalen
seperti intan dan silikon dioksida. Tingginya sifat kovalensi ini memungkinkan
pemilihan geometri tetrahedon struktur ZnS, sebagaimana sering dijumpai bagi
senyawa Hg(II).
Sifat
kovalen potensial juga terdapat dalam litium iodida. Pemilihan bangun geometri
struktur NaCl pada senyawa ini sungguh tidak masuk akal jika alasan didasarkan
pada harga standar jari-jari ioniknya.
Ion Li+ terlalu kecil ukurannya dalam rongga oktahedral anion
iodida sehingga akan mengakibatkan posisi kation tidak pas, tetapi bergejolak
terus menerus. Studi struktur kristal menunjukkan bahwa rapatan elektron litium
tidak berupa bola ( sferis) melainkan mencuat keluar kearah keenam atom iodin
di sekelilingnya; oleh karena itu, litium iodida tidak dapat dipertimbangkan
sebagai senyawa yang benar-benarionik, dan diduga mengandung sekitar 30% karakter
kovalen.
Selain
itu ditemukan bukti bahwa perbedaan energi antara kemasaman geometri sering
kali sangat kecil. Sebagai contoh rubidium klorida, RcCl, umumnya mengadopsi
geometri struktur NaCl yaitu kubus pusat muka, dan bukan struktur CsCl yaitu
kubus sederhana sebagaimana yang diramalkan. Namun, kristalisasi dibawah tekana
dapat menghasilkan geometri CsCl. Jadi perbedaan energi pengemasan antar kedua
bangun geometri ini tentulah sangat kecil.
Perlu
diingat bahwa,
pada nilai jari-jari ionik tidaklah tetap dari lingkungan-tetangga yang satu ke
yang lainnya. Sebagai contoh ion Cs+ mempunyai jari-jari ionik sebesar 181 pm hanya ketika ion ini
dikelilingi olehenam anion tetangga, dan dengan delapan anion tetangga seperti
dalam CsCl, ,Cs+ mempunyai
jari-jariionik sedikit lebih besar,188 pm. Untuk ion-ion berukuran besar
perbedaan ini bukaanlah merupakan faktor yang utama, tetapi untuk ion-ion
berukuran kecil perbedaannya sangat signifikan. Litium, dalam lingkungan kordinasi
4, memiliki jari-jari 73pm, tetapi dalam lingkungan koordinasi enam, Li+
mempunyai jari-jari 90 pm.
2.12 Energi
Kisi
Energi
kisi adalah kuantitas termodinamik yang didefinisikan sebagai energi yang
dibebaskan apabila ion-ion dalam keadaan gas bergabung untuk menghasilkan satu
mol senyawa ionik kristalin.
Energi
kisi secara esensial merupakan entalpi pembentukan senyawa ionik dari ion-ion
fase gas. . energi kisi jarak antar ion dalam kristal dan muatan ionnya
bervariasi. Semakin dekat bergabungnya ion-ion dan semakin besar muatan ion-ion
yang bersangkutan, semakin besar energi kisinya.

Beberapa sifat senyawa ionis seperti titik eleh dan titik
didihnya mempunyai hubungan yang erat dengan energi kisi. Energi kisi dapat
ditentukan dengan cara-cara yang akan diuraikan di bawah ini.
Untuk memahami terjadinya ikatan ionis dan terbentuknya
kristal senyawa ionis dapat ditinjau pembentukan NaCl dari atom-atomnya menurut
reaksi
Menurut Haber-Born, reaksi diatas berlangsung dalam tiga
tahap sebagai berikut:
Pada tahap I terjadi penguapan logam Na dan disosiasi
molekul Cl2 menjadi atom, dimana diserap energi sebesar entalpi
penguapan dan ½ dari energi disosiasi ikata Cl-Cl. Pada tahap II atom Cl dan
atom Na yang berbentuk gas mengalami ionisasi dimana diserap energi sebesar
energi ionisasi Na dan dilepaskan energi sebesar afinitas elektron Cl. Pada tahap
III terjadi kondensasi ion Na+ dan ion Cl-dalam bentuk gas menjadi
kisi kristal NaCl. Bila pada sistem yang terdiri dari 1 mol Na dalam bentuk gas
dan ½ mol Cl2dalam bentuk gas diberikan energi sebesar energi
potensial ionisasi atom Na yaitu 496 kJ.
Bila keadaan setimbang tercapai, kristal ion yang
kemudian terbentuk dari ion-ion Na+ dan ion-ion Cl- menurut susunan yang
teratur. Kisi kristal tersebut terdiri dari sekumpulan satuan terkecil dari
kristal yang disebut sel satuan.
Perhitunganenergi kisi
Perhitungan
energi kisi dimulai dari cara perhitungan entalpi pembentukan senyawa ionik
padatan dari gas-gas dari penyusun ion yang bersangkutan. Sebagai contoh adalah
senyawa sederhana NaCl. Study sinar-X menunjukkan bahwa atom-atom tersusun
dalam bentuk kubus, dan setiap atom Na dikelilingi oleh enam atom Cl secara
oktahedron demikian juga sebaliknya.
Bila diasumsikan bahwa atom-atom ini berupa ion Na+
dan ion Cl-, maka energi larikan dapat dihitung melalui cara berikut
. jarak Na+- Cl- paling pendek dinyatakan sebagai r0’
maka energi elektro statik antara
dua ion bertetangga ini dapat dinyatakan dengan rumusan Coulomb :
E(joule) =
, dengan
o
= 8,854 x 10-2C2m-1J-1.
Pada
gambar 1.21b menunjukkan bahwa setiap ion Na+ dikelilingi enam ion
Cl- pada jarak ro’ dan hal ini menghasilkan energi
atraktif sebesar E
ion tetangga terdekat yang lain adalah 12 ion
Na+ yang secara trigono metri berjarak ro’
maka energi repulsif yang dihasilkan adalah 

Dengan
mengulang prosedur ini hingga berakhirnya interaksi semua ion, diperoleh
penjumlahan energi sebagai berikut :
E =-
(
-
+
-
+ ....)
=
(6 -
+
-
+
+....)
Rumus
umum bagi seri tak terbatas tersebut dapat diturunkan untuk mendapatkan harga
numerik yang semakin menyebar. Harga numerik ini, (6 -
+
-
+
+....), adalah khas bagi setiap struktur dan
tak bergantung pada jenis ionnya. Harga penjumlahan semua interaksi geometrik
ini disebut tetapan Madelung, MNaCl’ untuk struktur NaCl. Tetapan
madelung untuk struktur ioni yang diketahui perhitungannya dan hasilnya
sebagaimana ditunjukka pada tabel.

Tetapan
madelung yang unik, didefinisikan hanya untuk struktur-struktur yang rasio
vektor antar atomik cocok oleh simetri. Untuk struktur rutil, TiO2,
terdapat dua dimensi kristal yang dapat bervariasi secara bebas, oleh karena
itu terdapat tetapan madelung yang berbeda untuk masing-masing dimensi yang
bebas. Apabila 1mol NaCl terbentuk dari ion-ion gas yang bersangkutan
(masing-masing ada N ion Na+ dan Cl-, N = bilangan avogadro), maka energi total
yang dibebaskan adalah :
E(atraktif)
= N Z+ Z- MNaCl (
) dengan Z+
dan Z, masing-masing adalah muatan kation (Na+) dan muatan anion (Cl-).
Hel
ini memang benar demikian, karena ekspresi enargi elektrostatik untuk satu ion
Cl- sama dengan energi elektrostatik untuk satu ion Na+.
Energi elektrostatik, tepatnya energi atraktif antara dua muatan yang
berlawanan, bukanlah energi aktual yang dibebaskan dalam proses:
Na+(g)
+ Cl-(g)
NaCl (s)
Kenyataannya,
ion bukanlah sebagai bola kaaku (rigid) keseimbangan pemisahan Na+
dan Cl- dalam NaCl adalah tepat ketika gaya-gaya atraktif (tarik)
benar-nbenar tepat diseimbangkan oleh gaya-gaya repulsif (tolak). Secara umum
menurut Born, energi total repulsif per mol dapat dituliskan kaitannya dengan
jarak r, yaitu :
E
(rep) =
dengan B = konstanta
Pada
keadaan kesetimbangan-jarak r = ro energi (bersih) U untuk proses
reaksi tersebut diatas adalah: U = N Z+ Z- MNaCl
(
) +
.
Catatan
:
1. Perhatikan
bahwa gaya atraktif menghasilkan kontribusi eksotermik sedangkan gaya repulsif
menghasilkan kontribusi endotermik.
2. Dari
eksperimen, informasi eksponen B, yaitu n, dapat diperoleh dari data
kompresibilitas yaitu perubahan fraksional volume per perubahan unit.
tekanan
(
)P, karena ion-ion
menunjukkan sifat menahan bila dipaksa untuk mendekat lebih lanjut satu
terhadap yang lain. Harga-harga ini ada hubungannya dengan tipe konfigurasi
elektronik ion-ion yang bersangkutan, dan beberapa sudah dapat diketahui yaitu:
Konfigurasi : He Ne Ar,Cu+ Kr,Ag+ Xe,Au+
n : 5 7 9 10 12
energi
pada keadaan keseimbangan-jarak ini adalah minimum (yang berarti U = nol pada r
= ro) dan ini dapat ditentukan dari turunan U terhadap r sebagai
berikut:
(
)r=ro = 0 =
-
- 
Secara
fisik persamaan ini adalah persamaan gaya elektrostatik atraktif dan gaya
repulsif antar ion-ion, dan harga B dapat ditentukan yaitu :
B = -

Selanjutnya,
karena energi yang dibicarakan sudah tertentu yaitu energi minimum, maka digunakan
istilah Uo untuk menyatakan energi pada keseimbangan jarak, sehingga
diperoleh:
Uo =
- 
Uo =
(1-
)
Persamaan
ini adalah persamanan Born-Lande untuk enrgi kisi senyawa-senyawa ionik yang
sangat sukses dalam meramalkan harga-harga energi kisi secara akurat walaupun
persamaan ini menghilangkan faktor-faktor energi tertentu. Persamaan ini hanya
memerlukan pengetahuan struktur kristal yang bersangkutan didalam memilih
harga-harga yang tepat bagi tetapan Madelung, M, dan jarak antar ion, ro,
yang keduanya tersedia melalui study difraksi sinar-X. Eksponen Born bergantung
pada tipe ion yang terliba, ion lebih besar yang mempunyai densitas elektron
lebih besar akan mempunyai harga n yang lebih besar. untuk kristal NaCl penggunaan persamaan tersebut melibatkan
harga faktor-faktor berikut:
M = 1,74756 N
= 6,022x 1023mol-1
e = 1,60210 x 10-19c r = 2,81x 10-10 m (rNa+
+ rcl- )
Z+ = +1(Na+) Z- = -1 (Cl-)
n = 8, rata-rata harga untuk Na+
(Ne) dan Cl-(Ar).
Atas
dasar besaran tersebut harga Uo dapat dihitung, yaitu -755 Kjmol-1,
dengan harga eksperimen terbaik adalah -770 kJ mol-1 (kesalahan
2%). Untuk ,endapatkan hasil yang sempurna
beberapa fungsi telah disarankan untuk diganti khususnya energi repulsif
tersebut. Ada tiga term energi yang mempengaruhi hasil perhitungan tersebut
sampai dengan harga belasan (~12kJ mol-1 ), seperti gaya-gaya ven
der waals, london, energi titik nol dan koreksi kapasitas panas. Energi titk
nol muncul karena berdasarkan analogi partikel dalam kotak, sekalipun pada nol
kelvin ion-ion akan tetap melakukan gerakan vibrasi dalam kisi karena mungkin
tidak bergerak.
Siklus Born-Haber
Salah
satu uji manfaat deskripsi model ionik tersebut adalah adalah kemampuannya
menghasilkan perhitungan harga entalpi pembentuksn yang akurat, misalnya bagi
NaCl. Pada proses reaksi pembentukan NaCl (S) dari ion-ionnya, Na+(g)
dan Cl-(g), secara prinsip memungkinkan dilakukan pengukuran
entalpi pembentukan secara langsung meskipun secara eksperimen hal ini tidak
mungkin layak dapat dilaksanakan. Tetapi, untuk proses sebaliknya jelas tidak
mungkin dilaksanakan karena NaCl(S) baru kemudian mengalami
disosiasi menjadi atom-atomnya. Untuk mengatasi problem ini pada tahun 1919
M.Born, K. Fajans dan F. Haber. Hal ini didasarkan pada peran hukum hess yang menyatakan bahwa entalpi reaksi adalah sama meskipun reaksi yang bersangkutann terjadi dalam satu
tahap ataupun dalam beberapa tahap.
Reaksi
seperti ini dalam siklus pembentukan logam-halida mX mewakili konversi logam
padat menjadi kation dalam fase gas, dan konversi penggabungan ion-ion unuk
menjadi senyawa padatan. Entalpi tahap akhir, U, disebut sebagai energi kisi
kristal suatu senyawa ionik adalah energi yang dibebaskan bila ion-ion dari
jarak tak berhingga (berupa gas) bergabung membentuk gas menunjukan persamaan
reaksi M+(g) + X (g)
MX(S)

Menurut
gambar
Hf =
HAM +
HAx +
HIE +
HEA + U ;
dalam hal ini
HAM =
entalpi atomisasi logam ( atau energi sublimasi, untuk logam yang menguap
membentuk gas monoatomik),
HAX =
entalpi atomisasi non logam (atau entalpi disosiasi atau energi ikatan untuk
gas nonlogam diatomik),
HIE = energi
ionisasi
HEA =
afinitas elektron, serta U = energi kisi kristal.
Energi
sublimasi (tahap 1), energi ionisasi (tahap 2) dan energi ikatan (tahap 3),
umumnya diperoleh dari pengukuran-pengukuran eksperimental. Afinitas elektron
(tahap 4) dan energi kisi (tahap 5) yang keduanya sukar diukur secara
eksperimental sering ditentukan melalui kalkulasi siklus Born-Haber. Tahap
1,2,dan3 semuanya memerlukan energi input, jadi dengan
Hberharga positif.
Afinitas elektron (tahap 4) berharga negatif untuk halogen dengan rentang harga
dari -349 hingga -295 kJ mol-1energi kisi (tahap5) selalu berharga
negatif. Apabila energi kisi dan afinitas elektron yang digabungkan menyediakan
energi yang diperlukan tahap 1 hingga tahap 3, pembentukan senyawa ionik yang
diharapkan bersifat eksotermik dan umumnya lebih sering terjadi dari pada yang
bersifat endotermik.
Diterapkan
pada NaCl, entalpi pembentukan NaCl (s) dapat dipecah menjadi
beberapa tahapan seperti ditunjukan oleh gambar 1.32 sehingga dapat diperoleh
perhitungan sebagai berikut:
-
Hvap
(entalpi penguapan) Na(s)
Na(g) = -108 kJ mol-1
-1/2
Hdis(entalpi
atomisasi) Cl2(g)
2Cl(g) = -121 kJ mol-1
-
HEA (afinitas
elektron) Cl(g) + e
Cl- =
349 kJ mol-1
-
HIE (energi
ionisasi) Na (g)
Na+(g)
+ e = 496 kJ mol-1
Uo = -787 kJ mol-1
Jadi
energi kisi NaCl, adalah -787 kJ mol-1. Hasil perhitungan siklus ini
sangat dekat dengan hasil perhitungan teoritik yaitu 755 kJ mol-1
dengan beda kurang lebih 4 %. Dengan demikian rumusan teoritik untuk model
ionik diatas sangat berguna untuk memprediksi enargi ikatan suatu senyawa
ionik.
Diagram perhitungan
energi kisi.

Suatu
hal yang penting dari siklus tersebut yang berkaitan denganikatan kimia adalah
bahwa:
1.
HA selalu
positif, tetapi biasanya relatif kecil dari besaran-besaran yang lain dan tidak
besar variasinya untuk berbagai senyawa.
2.
HIE (energi
ionisasi) selalu positif (endotermik) dan besar nilainya.
3.
HEA (afinitas
elektron) halogen selalu eksotermik, tetapi untuk kalkogen endotermik, halini
terjadi karena gaya tarik inti terhadapelektron keduan pada ion kalkogen lebih
kuat.
4. Dalam
berbagai kasus jumlah energi ionisasi, titambah afinitas elektron , selalu
positif dan kestabilan senyawa ion terhadap sifat disosiasi menjadi
unsur-unsurnya semakin bertambah karena adanya kelebihan eksotermik yang
ditimbulkan oleh gaya atraktif antar ion-ion berlawanan.
Siklus
Born-Haber sering digunakan dengan cara berbeda, bila diasumsikan bahwa energi
kisi yang dihitung menurut model ionik
tersebut adalah benar, maka siklus ini dapat digunakan untuk menaksir beberapa
energi yang terlibat. Misalnya, tidak ada cara langsung yang dapat dipakai
untuk mengukur pembentukan entalpi ion CN-(g) dari siklus Born-Haber untuk NaCN, harga-harga
untuk entalpi penguapan dan entalpi ionisasi unsur Na diketahui dengan U dapat
dihitung, maka
Hf untuk Cn-(g)
dapat ditentukan, yaitu ~29 kJ mol-1, harga-harga energi kisi
beberapa senyawa yng diperoleh dari data eksperimen menurut metode siklus Born-Haber
dengan berbagai model den dengan perhitngan teoritik ditunjukkan pada tabel
berikut:

Kapustinskii
berpendapat bahwa tetapan madelung, jarak antar nuklir, dan formula empiris
empiris senyawa ionik semua salinh berhubungan. Jika struktur kristal tidak
diketahui energi kisi dapat ditaksir melalui persamaan :
U =
(1-
)
Dengan
v adalah jumlahnya ion per milekul senyawa, ro (pm) ditaksir sebagai
jumlah jari-jari ion (r+ + r). untuk NaCl v = 2, ro = 281 pm, sehingga menghasilkan
harga energi kisi 753 kJ mol- atau kira-kira 98% signifikan terhadap
harga eksperimen. Hasil ini sebanding dengan hasil perhitungan teoritik.
Dengan
hasil yang signifikan tersebut, maka suatu tahapan dalam siklus Born-Haber yang
sukar atau belum dapat dilakukan secara eksperimen langsung, misalnya penentuan
afinitas elektron, dapat ditaksir melalui taksiran harga U secara teoritik.
Selain itu, dimungkinkan untuk menduga harga entalpi pembentukan suatu senawa
yang tidak diketahui sebelumnya. Taksiran yang cukup baik dalam hal entalpi
atomasi, energi ionisasi dan afinitas lektron sekarang sudah tersedia untuk
hampir semua unsur. Oleh karena itu cukup beralasan bila kemudian dilakukan
dugaan yang cukup baik terhadap struktur kisi
termasuk jarak antar nuklir dan geometrinya.
Siklus
Born-haber dapat pula digunakan untuk merasionasi formula suatu senyawa.
Miaslnya, mengapa hanya senyawa NaCl
ditemui sedangkan senyawa NaCl2 tidak. Untuk senyawa hipotesis NaCl2, energi kisinya
akan lebih besar karena muatan Z adalah +2,
sehingga jika dikaitkan dengan tingkat kestabilan seharusnya NaCl2
lebih stabil dibandingkan dengan NaCl. Namun, jika semua aspek terlibat
dievaluasi ternyata didapatkan bahwa naiknya energi yang diperlukan untuk
ionisasi kedua untuk atom Na menjadi Na+ jauh lebih besar (4562 kJ
mol-1 ) dari pada energi kisi untuk NaCl2, dengan
asumsi bahwa senyawa hipotesis NaCl2
mengadopsi bentuk struktur Fluorit (CaF2), dan jarak antar nuklir
relatif sama dengan jarak anatar nuklir NaCl hinggga mempunyai tetapan madelung
2,54, maka energi kisinya dapat dihitung kira-kira sebesar -2155 kJ mol-1.
Dengan siklus born-Haber (Uo
= -2155,
HA(Na) =
109,
HA(Cl) =
242,
HIE(1) =
495,
HIE(2) 4562,
dan 2
HEA = -69).
Entalpi pembentukan dapat dihitung, yaitu
Hf = +2555
kj mol-1. Jadi pada pembentukan senyawa hipotesis NaCl2
dibutuhkan energi sebesar 2555 kJ mol-1. Energi ini jauh lebih besar
dari pada enargi kisi yang bersangkutan, sekalipun perhitungan kasar energi
kisi ini dikoreksi lebih lanjut. Dengan kata lain senyawa hipotesis NaCl2
tidak akan ditemui karena kestabilan ekstra dari energi kisi tidak cukup
mengompensasi energXi ionisasi kedua ataom natrium yang sangat besar.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan maka dapat
ditarik kesimpulan adalah sebagai berikut:
1.
Kekerasan senyawa ionik dapat dilihat dari titik
lelehnya yang tinggi karena sebaran ikatannya ke segala arah dan kuat
2. Sifat ikatan ionik yang kuat
dan sebaran ikatan ke segala arah yang menyebabkan titik lelehnya tinggi
3.
Ukuran atom dalam periode semakin kecil
dengan naiknya nomor atom (dari kiri ke kanan)sebagai akibatnya naiknya muatan inti efektif, zef.
4.
Pembentukan ion logam (kation) dari
atomnya melibatkan pelepasan semua elektron valensi, sehingga ukuran kaiton
akan menjadi jauh lebih kecil ketimbang ukuran atom induknya.
5.
Makin
besar jumlah proton atau muatan inti makin besar muatan inti efektif zef
dan oleh karena itu makin kuat gaya tarikannya terhadap elektron sehingga makin
kecil ukuran atau jari-jari ionnya.
6.
Jari-jari anion semakin kecil dalam satu
periode dengan penurunan muatan ion.
7.
Dalam
golongan, ukuran atom semakin besar dengan naiknya nomor atom (dari atas ke
bawah) demikian juga ukuran ionnya.
8.
Jarak antarnuklir antara dua ion dalam
struktur ionik diasumsikan sama dengan jumlah jari-jari ionic.
9.
Kation dengan ukuran lebih kecil tentu
akan memilih rongga tetrahedral yang lebih kecil dari pada rongga oktahedral,
dan kation yang lebih besar akan memilih rongga kubus yang sederhana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar