Kamis, 21 Mei 2015

Ikatan Ionik



2.1  Pembentukan Ikatan Ion
Perkembangan munculnya teori ionisasi mendorong pernaharnan adanya senyawa ionik dan senyawa kovalen atau nonionik. Senyawa ionik sederhan terbentuk hanya antara unsur-unsur metalik dan nonmetalik yang keduanya sangat aktif. Dua persyaratanpenting, yaitu energi ionisasi untuk membentuk kation dan afinitas elektron untuk membentuk anion, harus lebih menguntungkan (favourable) ditinjau dari pertimbangan energi. Ini bukan berarti kedua reaksi pembentukan ion-ion tersebut harus eksotermik, tetapi lebih berarti bahwa reaksi tidak membutuhan energi yang lebih besar. Jadi, persyaratan untuk terjadi ikatan ionik adalah salah satu atom unsur harus mampu melepas satu atau dua elektron (jarang tiga elektron) tanpa memerlukan banyak energi, dan atom unsur lain harus mampu menerima satu atau dua elektron (hampir tidak penah tiga elektron) tanpa memerlukan banyak energi. Oleh karena itu, ikatan ionik banyak dijumpai pada senyawa dari logam golongan 1,2 sebagian 3, dan beberapa logam transisi dengan bilangan oksidasi rendah, dan nonlogam golongan halogen, oksigen, dan nitrogen. Semua energi ionisasi adalah endotermik, dan afinitas elektron untuk halogen adalah eksotermik, tetapi untuk oksigen dan nitrogen sedikit endotermik.


Metalurgi



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Metalurgi adalah ilmu pengetahuan dan teknologi logam, pengolahan dari bijihnya, pemurnian, serta studi sifat maupun penggunaannya.  Berdasarkan tahapan rangkaian kegiatannya, metalurgi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu metalurgi ekstraksi dan metalurgi fisika. Metalurgi ekstraksi yang banyak melibatkan proses-proseskimia, baik yang temperatur rendah dengan cara pelindian maupun pada temperatur tinggi dengan cara proses peleburan utuk menghasilkan logam dengan kemurnian tertentu, dinamakan juga metalurgi kimia. Adapun proses-proses dari ekstraksi metalurgi atau ekstraksi logam itu sendiri antara lain adalah Pirometalurgi (proses ekstraksi yang dilakukan pada temperatur tinggi), Hidrometalurgi (proses ekstraksi yang dilakukan pada temperatur yang relatif rendah dengan cara pelindian dengan media cairan), dan elektrometalurgi (proses ekstraksi yang melibatkan penerapan prinsip elektrokimia, baik pada temperatur rendah maupun pada temperatur tinggi). Meskipun sesungguhnya metalurgi kimia itu sendiri mempunyai pengertian yang luas, antara lain mencakup juga pemaduan logam dengan logam lain atau logam dengan bahan bukan logam . Paduan logam (aloi) dapat merupakan larutan zat padat (solid solution) dengan komposisi yang bervariasi tertentu. Aloi yang merupakan zat padat ada dua macam, yaitu aloi selitan (interstitial alloy) dan aloi subtitusi (subtitution alloy). Oleh karena itu untuk lebih memahami mengenai metalurgi serata paduan logam (aloi) maka ditulislah makalah ini.
1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimanakah prosedur dan proses metalurgi?
  2. Apa saja jenis-jenis metalurgi dan bagaimana contohnya?
  3. Bagaimanakah logam paduan (aloi) itu ?
  4. Apa sajakah  jenis-jenis aloi?
  5. Bagaimanakah cara pembuatan aloi tersebut?

PENGARUH LIGAN TERHADAP WARNA ION KOMPLEKS


BAB II
PEMBAHASAN
Pada pembentukan senyawa kompleks netral atau senyawa kompleks ionik, atom logam dan ion logam disebut sebagai atom pusat, sedangkan atom yang mendonorkan elektronnya ke atom pusat disebut atom donor. Atom donor dapat berupa suatu ion atau molekul netral. Ion atau molekul netral yang memiliki atom-atom donor yang dikoordinasikan pada atom pusat disebut ligan. Pengertian ligan adalah suatu ion atau molekul yang memiliki sepasang elektron atau lebih yang dapat disumbangkan. Ligan merupakan basa lewis yang dapat terkoordinasi pada ion logam atau sebagai asam lewis membentuk senyawa kompleks. Ligan dapat berupa anion atau molekul netral. Jika suatu logam transisi berikatan secara kovalen koordinasi dengan satu atau lebih ligan maka akan membentuk suatu senyawa kompleks, dimana logam transisi tersebut berfungsi sebagai atom pusat. Logam transisi memiliki orbital d yang belum terisi penuh yang bersifat asam lewis yang dapat menerima pasangan elektron bebas yang bersifat basa lewis. Ligan pada senyawa kompleks dikelompokkan berdasarkan jumlah elektron yang dapat disumbangkan pada atom logam.Ikatan kovalen koordinasi adalah ikatan kovalen yang mana pemakaian bersama elektron didonorkan dari salah satu atom pembentuknya yakni ligan (basa lewis) ke atom pusat (asam lewis).
Di antara ciri-ciri khas ligan yang umum diakui sebagai mempengaruhi kestabilan kompleks dalam mana ligan itu terlibat, adalah:
a.       kekuatan basa dari ligan itu,
b.      sifat-sifat penyepitan (jika ada), dan
c.       efek-efek sterik (ruang)
Dari sudut pandangan aplikasi kompleks secara analisis, efek penyepitan mempunyai arti yang teramat penting, maka hendaklah diperhatikan secara khusus. Istilah ‘efek sepit’ mengacu pada fakta bahwa suatu kompleks bersepit, yaitu kompleks yang dibentuk oleh suatu ligan bedentat atua multidentat, adalah lebiih stabil disbanding kompleks padanannya denga ligan-ligan monodentat: semakin banyak titik lekat ligan itu kepada ion logam,semakin besar kestabilan kompleks. Efek sepit ini sering dapat disebabkan oleh kenaikan entropi yang menyertai penyempitan; dalam hubungan ini, penggantian molekul-molekul air dari ion terhidrasi haruslah diingat-ingat. Efek sterik yang paling umum adalah efek yang menghambat pembentukan kompleks yang disebabkan oleh adanya suatu gugusan besar yang melekat pada atau berada berdekatan dengan atom penyumbang.

MAKALAH PELARUT ANORGANIK




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Air telah lama dikenal sebagai pelarut universal. Pengakuan ini disebabkan oleh keberadaan air yang berlimpah di muka bumi dengan sifat dan karakteristiknya. Tidak ada pelarut lain yang memiliki fungsi serba guna sebagai pelarut dan ketersediaannya yang sama jumlahnya dengan air. Tidak ada juga penjelasan secara rinci tentang pelarut lain yang membahas berbagai karakteristik sifat fisik dan kimia selain pelarut air. Hal ini menyebabkan banyaknya alasan untuk memposisikan air sebagai pelarut yang luar biasa diantara pelarut lain.
Banyak diantaranya zat lain yang memiliki sifat pelarut sama, tetapi harus diakui bahwa sifat seperti itu biasanya tidak begitu jelas seperti di dalam air. Perbedaan antara pelarut air dengan pelarut tertentu lainnya lebih sering terletak pada perbedaan tetapan dielektriknya daripada perbedaan sifat. Hal ini dapat dilihat pada jenis pelarut bukan air seperti BrF3, N2O4, NH3, dan HF. Telah banyak dijumpai beberapa cairan yang memiliki kemampuan untuk melarutkan zat. Namun, pelarut jenis apapun itu hal yang lebih penting adalah mekanisme saat reaksi ion berlangsung sehingga pelarut itu dapat melarutkan suatu zat.
Pelarut adalah media untuk proses ionisasi yang memiliki sifat dan itu adalah sifat dasar dari setiap jenis pelarut. Pelarut berdasarkan jenisnya terbagi menjadi tiga macam, yaitu pelarut air, pelarut organik, dan pelarut anorganik.
Dari ketiga pelarut tersebut memiliki karakteristik masing-masing. Pelarut air merupakan pelarut umum yang sering digunakan dalam melarutkan unsur dan senyawa. Pelarut organik yang umumya bersifat non polar dan Pelarut anorganik yang non polar. Oleh karena itu, agar lebih memahami tentang pelarut khusunya anorganik, maka disusunlah makalah ini.

Alkali Tanah






UNSUR-UNSUR GOLONGAN 2 (ALKALI TANAH)


Disusun oleh   : Kelompok 6 (enam)
Anggota          : 1. Dwi Maisaroh                               1313023020
  2. Khairun Nisa Rakhmasari             1313024044
Mata Kuliah    : Kimia Anorganik II
Dosen              : 1. Dra. Nina Kadaritna, M.Si.
                          2. Muhammad Mahfudz Fauzi Syamsuri, S.Pd. M.Sc.
Semester          : 4 (empat)




PENDIDIKAN KIMIA
FAULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2015